Studi Perjanjian Baru

April 28, 2008

Studi Perjanjian Baru:

Telaah Kritis Sejarah, Perkembangan dan Kandungan

Prolog

Menurut Dr. Ahmad Syalabi, studi Perjanjian Baru (selanjutnya disingkat PB) sangat urgen, karena dua hal: Pertama, ia merupakan kitab umat Kristen secara langsung, dan kedua, PB menafsirkan Torah (Taurat) dan mengarahkannya menurut keyakinan umat Kristen.[1]

Pada mulanya, Injil PB bukan merupakan satu kumpulan yang disebut sebagai “buku” atau “kitab”. Perjanjian Baru merupakan kumpulan tulisan para pengarangnya, sehingga sangat wajar jika terdapat “multi penafsiran”. Dalam Kristen hanya ada 4 Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), selainnya adalah tulisan Paulus.[2] Salah satu Injil yang ditolak oleh gereja dan sengaja ingin dihancurkan adalah Injil Barnabas.[3] Meskipun PB terdiri dari 27 kitab, penulis hanya memfokuskan diri pada empat Injil tersebut di atas. Hal ini dilakukan, agar kajiannya lebih mendalam dan detil.

I. Injil: Pengertian dan Sejarah

A. Pengertian

Secara etimologis, kata Injil berasal dari bahasa Yunani (En-aggelion), yang berarti “kabar gembira” (‘al-bisyârah’), kabar yang menyenangkan. Dalam dalam bahasa Yunani biasa ia menunjukkan pada kemenangan, atau amal yang tinggi untuk seorang pahlawan atau Tuhan.[4] Defenisi etimologis ini sudah merupakan tradisi. Namun, dalam banyak hal defenisi tersebut mengharuskan adanya penafsiran bahasa untuk menegaskan maknanya, dimana kita menemukan dalam bahasa Inggris bahwa Injil = Gospel, yang berasal dari kata Good spell. Sejatinya, masalahnya tidak sesederhana itu. Meskipun hal itu sudah meruapakn defenisi yang dikenal luas, namun ia bukan defenisi satu-satunya. Hal itu dikarenakan para ilmuan Kristen berusaha hingga sekarang untuk menentukan hakikat Injil. Mereka menganggap bahwa hal itu – hakikat Injil – sesuatu yang perlu diidentifikasi.

Salah satu dari usaha tersebut, kita menemukan John Fenton dalam mukaddimah “Saint Mathew”, seperti yang dikutip oleh Ir. Ahmad ‘Abd al-Wahhâb, menyatakan:

“Salah satu defenisi yang dikenal luas untuk kata Injil adalah bahwa ia merupakan sesuatu yang mungkin diyakinin dengan penuh kepastian. Jika seorang pembaca memperhatikan Injil Matius untuk menemukan penjelasan sejarah yang mendalam tentang kehidupan Yesus, niscaya dia akan kehilangan harapan. Oleh karena itu, kita harus mengidentifikasi esensi Injil, agar kita paham bagaimana cara membacanya. Dan – agar – kita tahu apa yang sedang kita cari di dalamnya. Tetapi, dengan cepat kita dihadapkan pada kesulitan ini. Yaitu, kita tidak menemukan cara yang membantu kita untuk mengidentifikasi esensi Injil, kecuali lewat Injil itu sendiri.

Tidak ada seorang penulis pun pada waktu dimana Injil-injil (Gospels) itu ditulis memberikan informasi yang membantu kita untuk menjawab pertanyaan ini: Apa itu Injil.* Oleh karena itu, penelitian kita dalam sifat Injil dan tujuannya menjadi terbatas pada studi Injil-injil itu sendiri.”

Setelah Fenton melakukan studinya, ia dapat mengidentifikasi esensi itu dengan mengatakan, “Injil – yakni susunan materi yang berbicara tentang perkataan-perkataan dan pekerjaannya dengan cara yang menjadikan seorang pengarang mengekspresikan berbagai keyakinannya yang terbatas yang mengharuskan dirinya meyakini hal itu lewat karangannya.”[5]

Sejatinya, mengartikan kata Injil ke dalam bahasa Yunani dengan En-agellion juga harus dilihat secara kritis, karena Yesus tidak berbicara dalam bahasa Yunani, karena dia orang Yahudi.

Menurut Ahmad Idris, bahasa Yesus adalah Aramia (Aramaic): bahasa kaumnya. Oleh karena itu, kata Injil tidak dinisbatkan kepada risalah Kristus atau Kitab Sucinya selama hidupnya. Tetapi, mungkin saja kata “kabar gembira” (al-busyraâ), “kabar baik” (al-bisyârah) atau yang semisalnya di dalam bahasa Arami merupakan ‘saudara’ bahasa Arab dan Ibrani: yang keluar dari lisan Kristus, khususnya hal tersebut terdapat di dalam Taurat beberapa kali.* Kata Injil muncul di dalam PB beberapa kali, tetapi bukan dalam arti “Kitab”, melainkan “kabar baik”. Tapi penggunaan kata Injil secara terminologi belum ada, kecuali pada paro dua abad ke-2 masehi, atau setelah kematian Yesus sekitar 150 tahun menurut penjelasan ensiklopedia Injil.[6]

Menurut Maurice Bucaille, dalam berbagai tulisan dan teks yang sampai kepada kita dari fase-fase pertama kekristenan belum ada disebut kata Gospels. Sampai datang waktu yang lama terhadap teks-teks yang ditulis oleh Paulus. Mulailah – sejak saat itu – kumpulan tulisan-tulisan Injiil (Evangelical Writings) pada pertengahan abad ke-2 M., yakni setelah 140 tahun M. Meskipun demikian, lanjut Maurice, kita menemukan “satu perhintungan (anggapan) dari awal abad ke-2 M. bahwa mereka (para penulis Injil_red) tampa dengan jelas mengetahui jumlah besar dari surat-surat Paulus”. Catatan semacam ini tersebar dan dijelaskan oleh “Ecumenical Translation of the Bibel, New Testament” yang keluar pada tahun 1982.[7]

B. Sejarah

Secara keseluruhan, umat Kristen mensakralkan – di samping PL – kitab khusus milik mereka, yang disebut dengan PB. PB ini terdiri dari “27” kitab yang telah diakui oleh para ilmuan Kristen di antara puluhan buku-buku yang mirip pada abad ke-5 masehi dan ini – sebagaima yang Anda lihat – masa yang sangat terlambat.!! Buku-buku PB itu terbagi ke dalam empat bagian:

  1. Injil yang empat (Gospels):
    1. Injil Matius;*
    2. Injil Markus;*
    3. Injil Lukas; *
    4. Injil Yohanes.*
  2. Kisah Rasul-rasul, yaitu satu kitab dinisbatkan kepada “Lukas”, salam seorang pengarang Injil.
  3. Surat-surat suci (Epistles), yaitu salah satu dari 21 surat, diantaranya adalah 14 surat yang ditulis oleh Paulus seperti di bawah ini:
    1. Surat Paulus kepada penduduk Roma (Romans)
    2. Surat Pertama kepada penduduk Korintus (Corinthians)
    3. Surat Kedua kepada penduduk Korintus
    4. Surat kepada penduduk Galatia (Galatians)
    5. Surat kepada penduduk Epesus (Ephesians)
    6. Surat kepada penduduk Filipi (Philipians)
    7. Surat kepada penduduk Kolose (Colossians)
    8. Surat Pertama kepada penduduk Tesalonika (Thessalonians)
    9. Surat Kedua kepada penduduk Tesalonika
    10. Surat Pertama kepada Timotius (Timothy)
    11. Surat Kedua kepada Timotius
    12. Surat kepada Titus (Titus)
    13. Surat kepada Filemon (Philemon)
    14. Surat kepada orang-orang Ibrani (Hebrews).

Keempat belas surat ini dalam daftar surat-surat Pulus, karena sebagian teolog Nasrani meragukannya dan tidak menganggapnya benar. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan:

“The Epistle to the Hebrews is still attributed to Paul by some students of the Bible”. Yang menunjukkan hal itu adalah bahwa surat Paulus ini tidak diakui oleh konsili Nicea pada tahun 325 M. Dan tujuh surat sisanya disebut sebagai Catholic Epistles, seperti di bawah ini:

1. Surat Ya‘kub (James);

2. Surat Pertama Petrus (Peter);

3. Surat Kedua Petrus;

4. Surat Pertama Yohanes;

5. Surat Kedua Yohanes;

6. Surat Ketiga Yohanes;

7. Surat Yehuda (Jude).

  1. Kitab “Wahyu kepada Yohanes”, disebut juga dengan Revelation to John atau Apocalipse.

Susunan PB yang kita sebutkan di atas adalah yang terdapat di dalam berbagai cetakan baru (modern) dalam sekte Kristen Protestan. Namun dalam buku R. F. Collins, Introdcution to the New Testament, pl – 3 (London, 1983), sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Al-Syarqâwî sangat berbeda sekali dalam susunannya. Dalam keputusan konsili Roma yang dibawahi oleh Pope Dimasus tahun 382 M dan Tarent pada tahun 1546 M, dan dafatar Uskup Alexandria Athanasius yang dibuat bertepatan dengan hari Paskah tahun 367 M disebut sebagai berikut:

Pertama, konsisil Roma tahun 382 M. memutuskan bahwa hendaknya susunan PB itu adalah sebagai berikut:

1. Injil-injil: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes;

2. Wahyu kepada Yohanes;

3. Kisah para Hawari (murid-murid Yesus);

4. Surat-surat Katolik (Catholic Eipstles).

Kedua, konsili Trent yang dilaksanakan pada tahun 1546 M. memutuskan bahwa susunan kitab-kitab yang diakui bagi PB adalah sebagai berikut:

1. Injil yang empat: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes;

2. Kitab Para Hawari;

3. 14 Surat Paulus;

4. Surat-surat Katolik (Catholic Epistles);

5. Wahyu Kepada Yohanes.

Ketiga, daftar kitab-kita tersebut yang paling kuno adalah apa yang dikeluarkan oleh Uskup Athanasius pada kesempatan hari Paskah pada tahun 367, yaitu sebagai berikut:

1. Injil yang empat: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes;

2. Kitab para Hawari;

3. Tujuh Surat Katolik (Catholic Epistles);

4. 14 Surat Paulus;

5. Wahyu kepada Yohanes.[8]

Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa tidak ada pernyataan yang menyatakan adanya Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebelum akhir abad ke-3 M. Orang yang pertama kali menyebutkan keempat Injil itu adalah Arinius pada tahun 209 M. Setelah dia adalah Clements Iskandarianus pada tahun 216 M. Ia menyebarkan pandangan bahwa keempat Injil tersebut wajib diterima. Gereja tidak cukup hanya memilih keempat Injil ini, tetapi menginginkan khalayak menerimanya karena – gereja – meyakini kebenarannya, dan menolak Injil-injil yang lain. Akhirnya sempurnalah apa yang gereja inginkan, dan keempat Injil itu yang diterima, dan membuang Injil-injil yang lainnya.[9]

II. Penulisan Injil

Menurut Burton L. Mack dalam The Lost Gospel: The Book of Q & Christian Origins, seperti yang dikutip oleh Prof. Dr. Al-A‘zamî, sebelum muncul empat Injil yang kita kenal sekarang, para pengikut Yesus menyusun buku mereka masing-masing. Dalam hal ini, tak ada hal yang dramatis tentang kehidupan Yesus, tak ada riwayat-riwayat mengenai pengorbanan dan penebusan spiritual. Fokusnya hanya terbatas pada jaran-ajarannya, pikiran-pikirannya dan tata cara serta perilaku yang ia jelaskan, begitu juga pada pembaruan-pembaruan sosial yang ia canangkan.[10]

Karangan ini sekarang dinamakan Injil Yesus, Q. Namun Q bukanlah sebuah teks yang stabil, sebagaimana kehidupan orang-orang Kristen yang tidak stabil, an memaksa untuk menyisipkan lapisan-lapisan teks yang berbeda kepada Q. Lapisan yang asli sangat mencolok: penuh dengan kata-kata yang simpel tapi padat, tanpa ada ajakan kepada suatu agama baru dan tidak ada isyarat apa pun tentang Yesus Kristus sebai Anak Tuhan.

Lapisan kedua membawa pergeseran nada, yang secara tersurat menjanjikan kehancuran bagi mereka yang menolak pergeseran itu. Namun menurut saya, kata Burton, pergeseran yang mengherankan terjadap dalam lapisan Q yang ketiga dan terakhir, yang ditambahkan oleh orang-orang Kristen pada masa percoba pemberontakan Yahudi Pertama (66-70 M.), di bawah bayangan kehancuran Rumah Tuhan yang Kedua oleh serdadu Romawo. Di sinilah Yesus di-upgrade daro seorang nabi yang bijak menjadi Anak Tuhan (Son of God), pewaris Kerajaan Ayah, yang sukses melawan godaan-godaan di dalam hutan-belantara.[11]

Dalam lapisan ketiga, tidak terdapat ajakan untuk menyembah Kristus, untuk menganggapnya sebagai seorang tuhan atau membayangkannya lewat ritual-ritual dan doa. Tidak terdapat penyaliban demi pergerakan itu sendiri, apalagi penebusan untuk seluruh manusia. Markus, Matius, dan Lukas menggunakan Q ketika menulis Injil mereka menjelang akhir abad pertama, tapi mereka dengan sengaja memelintir teks itu (masing-masing dengan caranya sendiri) untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Bagaimanapun juga, Q sebagai sebuah buku yang sebenarnya telah hilang dengan cepat.[12]

Menurut Prof. Al-A‘zamî, teks-teks yang menggantikan Q tersebut berupa riwayat-riwayat kehidupan Kristus yang dramatis, telah mengantarkan kepada suatu pergeseran dalam fokus dan membantu menghidupkan mitos-mitos dan spekulasi yang sejak itu telah menutup figur Yesus yang sebenarnya.[13]

Keempat Injil yang ada dan diakui oleh gereja: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes merupakan keempat Injil yang harus dikritisi. Kenapa? Karena ternyata, seperti dikatakan sebelumnya, mereka menggunakan sumber ‘Q’ sesuai dengan interes masing-masing. Tapi, benarkah Matius, Markus, Lukas dan Yohanes penulis kesemua Injil tersebut?

Sir Edwyn Hoskyns dan Noel Davey dalam The Riddle fo the New Testament, seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî menyatakan:

“Jika dirasakan sulit, karena bukti yang kurang memadai, untuk menamakan para pengarang Injil Sinoptik, maka lebih sulit lagi menentukan tanggal penulisannya secara pasti. Di sini tak ada bukti sama sekali; dan penentuan tanggal hanyalah suatu kemustahilan. Terminus ad quem adalah sekitar tahun 100 M.”[14]

Jika demikian halnya, maka pengarang keempat Injil tersebut tidak dapat dipastikan. Karena, menurut Ulfat Aziz-us-Samad, Injil-injil tersebut ditulis antara 40 sampai 80 tahun setelah kepergian (meninggalnya) Yesus, yang dinukil dari sumber dokumen-dokumen awal yang telah hilang. Para pakar Bibel (Biblical scholars) telah mengidentifikasi dokumen-dokumen awal tersebut, seperti (1) ‘Q’ (German Quelle = ‘Source’), satu dokumen dalam bahasa Arami (Aramaic) yang telah hilang; yang sampai kepada para penulis Injil-injil itu (Gospels) dalam satu terjemahan Greek, (2) (‘Urmarcus’ = Primitive Mark), merupakan draft awal dari Injil Markus yang ditulis berdasarkan tulisan-tulisan (discourses) Peter tentang Jesus, dan (3) ‘L’, satu kumpulan berbagai laporan tentang tentang Yesus, yang hanya digunakan oleh Lukas.[15]

Secara historis, memang tidak ada sumber yang menjelaskan bahwa Yesus memiliki satu Injil pribadi, meskipun Markus[16] dan Paulus[17] pernah menyinggungnya. Namun, tetap saja bukti konkret memang tidak ada. Alasan yang paling logis adalah: karena Yesus tidak pernah meminta para muridnya (Hawariyyun) untuk menuliskan Injilnya. Ia hanya memerintahkan para muridnya untuk menyampaikan dan mengajarkan ajaran-ajaranya, tidak lebih. Yesus menyampaikan ajarannya secara “oral” berdasarkan peristiwa dan kesempatan. Lebih jelas lagi, ketika keempat Injil yang ada ‘dinisbatkan’ lewat ‘perkiraan’ (according to) kepada masing-masing penulisnya. Yang pasti, Injil Yesus – meskipun pernah ada – telah hilang tanpa bekas.

‘Abd al-Wahhâb ‘Abd al-Salâm Thawîlah dalam bukunya al-Kutub al-Muqaddasah fî Mîzân al-Tawtsîq: al-Qur’ân, al-Tawrâh wa al-Anâjîl menyebutkan beberapa isyarat tentang “Injil Yesus” ini:

1. Dalam Injil Matius 26: 13 disebutkan, “Percayalah! Di seluruh dunia, di mana saja Kabar Baik dari Allah disiarkan, perbuatan wanita ini akan diceritakan juga sebagai kenangan padanya.”

Maka, kata penunjuk menunjukkan kepada yang ditunjuk di sini. Jika Yesus bermaksud untuk menyatakan (dengan kata ‘Kabar Baik’ itu) ajaran yang ada di dalamnya dadanya, niscaya ia menjelaskannya. Lalu di mana Injil yang diisyaratkan Kristus itu?!

2. Dalam Injil Markus 1: 14-15 disebutkan, “Wa ba‘da mâ aslama Yûhannâ jâ’a al-Yasû‘ ilâ al-Jalîl yukrizu bibisyârat malakût Allâ, wa yaqûlu: “Qad kamula al-zamân, wa’qtaraba malakût Allah. Fatûbû wa âminû bi al-Injîl” ( “Setelah Yohanes dipenjarakan, Yesus pergi ke Galilea, dan mengajarkan Kabar Baik dari Allah di sana. Ia berkata, “Zaman telah sempurna, dan kerajaan langit telah dekat. Bertobatlah dan berimanlah kepada Injil!”).

Kata Injil di sini – dalam kaidah bahasa Arab – disebut dengan al-mu‘arraf (diberi lam al-ta‘rîf)[18] menunjukkan kepada “masa daya pikir” (al-‘ahd al-dzihniy). Ini artinya, satu Injil berada di dalam pikiran mereka pada masa itu. Lalu di mana Injil itu??

3. Di dalam surat Paulus kepada penduduk Roma 1: 1 disebutkan, “Paulus..yang disebut seorang rasul pemberi kabar Injil Allah.” Roma 1: 9 menyebutkan, “…Dialah Allah yang saya layani dengan sepenuh hati dengan dalam menyampaikan Injil anak-Nya adalah saksiku…”[19]

4. Dalam I Korintus 9: 12 disebutkan, “…sebaliknya kita menanggung segala sesuatu daripada menimbulkan suatu hal yang menghalangi penyebaran Injil Kristus.”

Dalam teks-teks tersebut kita menemukan kata “Injil” yang disandarkan kepada lafadz kemuliaan (Allah), atau kepada “anak”, atau kepada “Kristus”, lalau di mana Injil tersebut?! Jadi, Injil yang diturunkan oleh Allah kepada hamba dan rasul-Nya, Kristus telah hilang. Tidak ada yang tersisa, kecuali sebagaian ungkapan yang terpisah-pisah di dalam Injil yang beredar di tangan umat Kristen. Siapa yang menelaah keempat Injil itu, ia akan menemukan bahwa para penulisnya telah memanfaatkan Injil tersebut sebelum hilang. Sekiranya kitab tersebut sampai kepada kita seperti yang ia (Yesus) tulis atau ia sampaikan, niscaya akan menjadi khazanah yang sangat mahal sekali.[20]

Pendapat ‘Abd al-Wahhâb yang menyatakan bahwa para penulis itu memanfaatkan Injil Yesus sebelum hilang tidaklah kuat. Karena, selain tidak ada bukti valid, para penulis itu juga “bersaksi” dalam setiap pengantar Injil mereka bahwa mereka menulisnya berdasarkan penyelidikan pribadi. Contohnya adalah apa yang diakui sendiri oleh Lukas dalam Injilnya (Lukas 1: 1-4).

Telah dijelaskan pada bagian terdahulu, bahwa Injil baru ditulis sekitar 40-90 tahun setelah kematian Kristus – menurut versi Kristen. Pertanyaannya adalah: faktor apa yang menjadikan penulisan Injil terlambat?

Menurut Ir. ‘Abd al-Wahhâb, para ilmuwan telah meneliti penyebabnya, dan kesimpulan mereka adalah: Keterlambatan penulisan Injil tidak hanya satu faktor, namun – pada realitanya – disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor inilah yang menjadikan ‘tidak bisa lari’ dari mengakhirkan penulisan Injil tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah:

1. Kita mendapatkan umat Kristen mula-mula bukan – atau mayoritas mereka – kelompok yang berpendidikan atau terpelajar. Tetapi kondisi mereka kita temukan dalam perkataan Paulus: kebanyakan mereka bukan ahli hikmah secara jasmani; bukan orang-orang kuat; dan bukan orang-orang yang mulia. Tetapi Allah telah memilih orang-orang bodoh dunia untuk melecehkan para ahli hikmah. (I Korintus 1: 16).

Injil yang paling tua (awal) adalah Injil Markus – yang ditulis dalam bahasa dialek Greek yang kasar.

Ditambah lagi, pada masa awal penyebaran kabar gembira (Injil) di Palestina, tradisi yang ada adalah penyampaian bentuk ajaran-ajaran keagamaan itu dilakukan secara oral (syafâhan).

Di Palestina banyak terdapat para guru agama (al-‘aqâ’id al-dîniyyah) di dunia Greek-Romawi. Ajaran-ajaran mereka sama sekali tidak disampaikan secara tertulis, melainkan menggunakan gaya bahasa oral (al-uslûb al-syafâhiy). Berdasarkan ini, yang tersisa tidak lebih dari sekedar ide yang membingungkan dalam pandangan umum yang dikatakan oleh keyakinan-keyakinan agama tersebut. Ditambah lagi banyaknya perkataan-perkataan yang tersebar yang secara umum bukan matan (redaksi atau substansi) asli, sehinga sulit untuk ditafsirkan.

3. Mahalnya kebutuhan dan materi untuk melakukan penulisan. Hal itu tidak menjadi penghalang bagi orang biasa, namun hal itu menjadi ‘batu sandungan’ bagi bagi para mu’dimiyyûn (orang-orag susah, yang merupakan mayoritas umat Kristen awal).

4. Faktor lain yang memiliki pengaruh efektif dalam proses munculnya riwayat-riwayat tertulis tentang kehidupan Kristus dan ajaran-ajarannya, yaitu penyebaran ide kemunculannya yang kedua: kembalinya Kristus ke dunia untuk yang kedua kalinya dalam kemuliannya. Jika akhir dari setiap sesuatu meragukan, jika hari apa akan berakhirnya itu tidak diketahui, maka sangat jelas orang-orang yang bersepakat dalam ide-ide tersebut kehilangan tempramen diri (al-mizâj al-nafsiy) dalam menulis catatan-catatan masa lampau.

5. Terdapat kesulitan dalam mengumpulkan penjelasan-penjelasan dan informasi-informasi untuk melakukan penulisan. Maka kita berhak bertanya: Bagaimana seorang Kristen yang awam (biasa) pada fase mula-mula kehidupan gereja (yang diwarnai dengan intimidasi dan kegoncangan) mendapatkan waktu yang memungkinkannya mengumpulkan berbagai informasi tentang kehidupan Kristus?

Tampaknya, sejalan dengan perguliran waktu, muncullah kebutuhan untuk memiliki catatan-catatan tertulis. Dan itu terjadi setelah kematian orang-orang yang menyaksikan dan menjadi pelayan ‘Firman’ (al-kalimah (menurut bahasa Lukas), dan setelah tersebarnya gereja di luar perbatasan Palestina. Bahkan, di dalam Palestina sendiri, lebih dari sekali gereja bercerai-berai, disebabkan aksi intimidasi yang ditemuinya – gereja.[21]

Tentu saja hal ini menjadikan kondisi penulisan sebagai hal yang absurd untuk dilakukan. Dalam kondisi normal saja, penulisan bukan hal yang gampang dan mudah untuk dilakukan, konon lagi dalam kondisi yang penuh dengan warna intimidasi dan kekerasan seperti yang dialami oleh umat Kristen awal. Umat Kristen awal benar-benar tidak mendapatkan ruang ‘untuk bernafas’, bahkan para murid Kristus sendiri banyak yang dikejar-kejar dan diintimidasi.[22]

Penulisan Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes

a. Injil Matius

Injil yang pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani adalah Injil Matius, yang ditulis di kota Antokia (Antioch) sekitar tahun 90 M. Penulisnya berpedoman pada dua dokumen yang hilang: Pertama, dari jenis German Quelle yang ditulis dengan bahasa Arami, dan kedua, dari jenis dokumen-dokumen ‘‘Marcus’’ pertama. Para para sepakat bahwa Injil Matius, bukan karangan Matius murid (salah seorang Hawariy) ‘Isa ‘alayhissalam. Jika Injil Matius itu hasil tulisannya, seperti yang diakui oleh sebagian orang, seharusnya ia menggunakan dokumen-dokumen dari jenis pertama.

C.J. Cadoux menceritakan tentang berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh penulis Injil yang tidak diketahui ini. Ia menyatakan:

“Jika kita periksa – dengan teliti – Injil Matius dari buku-buku khusus yang dia pinjam dari Markus, tampak bagi kita bahwa pengarangnya memberikan kebebasan yang tak terbatas kepada dirinya dalam editing dan dalam pemalsuan penjelasannya; untuk menghormati tuan agungnya menurut pemikirannya. Penyimpangan-penyimpangan serupa atau sikap berlebihan itu kita temukan secara jelas dalam gaya pengutipannya dalam menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan pribadinya secara khusus dalam bentuk yang ‘menumplekkan’ kepentingan yang tidak berhak dilakukannya. Atas semua itu, yang dapat kisa simpulkan dari Injil ini (Injil Matius) adalah: ia menampilkan materi sejarah yang harus kita kita waspadai.” (Lihat, The Life of Jesus by C.J. Cadoux, (Penguine Book).[23]

Siapakan sebenarnya Matius itu?

               A. Tricot memberikan gambaran tentang Matius ini dalam tafsirnya  terhadap  Terjemahan  Perjanjian  Baru tahun  1960  sebagai berikut: 
“Matius alias Levi adalah seorang pegawal kantor bea cukai di  distrik  Kafrna’um ketika  ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya.”[24] Sebab Matius yang asli adalah salah seorang dari Hawariyyun (pengikut atau murid setiap Kristus). Namanya masuk dalam daftar Injil Markus yang menghimpun dua belas nama murid Kristus.[25]
               Encyclopaedia Britannice menyatakan bahwa menurut kebiasaan, Matius dianggap sebagai penulis dan penyusun Injil yang pertama. Namun, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah kesalahan. Matius bukanlah penulis Injil yang dikenal dengan namanya itu.[26] 
Keyakinan umum menyatakan bahwa Injil Matius ditulis antara tahun 61 dan 65 M., tetapi Prof. Harnack berpendapat bahwa Injil ini ditulis antara tahun 80 dan 100 M. Sama saja, apakah Injil ini ditulis pada tahun 61 atau tahun 100 M., kita tidak mendengar gaungnya sebelum tahun 173 M.[27]
 
               b. Injil Markus

Sejatinya, Injil yang pertama kali ditulis adalah Injil Markus. Ia telah ditulis di Roma lebih kurang  pada 40 tahun setelah penyaliban Yesus (after the so-called crufixion of Jesus). Injil (Gospel) yang kita miliki saat ini adalah satu bentuk (versi) pengembangan dari dokumen Urmarcus, menurut penuturan Papias, penulis Kristen awal. Ia menyatakan:

“The elder John used to say, Mark having become Peter’s interpreter, wrote down accurately whatsoever he remembered. It was not, however, in exact order thet he related the sayings or deeds of Christ. For he neither heard the Lord not accompanied him, but subsequently as I said, attached himself to Peter who used the frame his teaching to meet the wants of his hearers, and not as making a connected narratives of the Lord’s discourses.”[28]

(Yohanes menyatakan, Markus menjadi penafsir Peter; yang telah menulis apa yang dia ingat dengan teliti. Bagaimanpun, dia tidak mengaitkan perkataan atau perbuatan Kristus. Karena dia tidak mendengar sang tuan (Kristus), dan tidak mengikutinya (menjadi pengikutnya). Tapi, kemudian seperti yang telah aku katakan, ia membubuhkan namanya kepada Peter; yang telah ‘membingkai’ ajarannya untuk kebutuhan (keinginan) para para pendengarnya, dan btidak bermaksud untuk merusak ajaran Yesus).

Jika kita menganalisis secara kritis pernyataan ini, gambaran yang muncul secara pasti mengungkapkan bahwa Injil ini tidak didasarkan atas wahyu maupun ajaran-ajaran Kristus yang asli, tetapi dasarnya adalah “ajaran-ajaran” Petrus, seorang murid Yesus, yang pada gilirannya tidak didasarkan atas ucapapan-ucapan Yesus secara pasti tetapi “disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan para pendengarnya”. Para pendengar Petrus ini adalah orangporang Yahudi yang sebenarnya berupaya sekuat tenaga membunuh risalah Yesus di saat masih bayi. Dan dari pihak Petrus melakukan segala upaya untuk membawa mereka kepada peribadatan yang sebenarnya kepad Tuhan; atau orang-orang kafir pagan yang begitu tenggelam dalam dewa-dewa mitos; sehingga cenderung membaurkan setiap berkas cahaya sejati agama dengan pikiran-pikiran mitologis mereka yang gelap.

Clement dari Alexandria, seorang otoritas kuno lainnya tentang Kristen, harus mengatakan dalam hubungannya dengan hal ini sebagai berikut:

“Sejak Markus mengikuti Petrus dalam waktu yang lama dan mengingat apa yang telah ia katakan, banyak orang memintanya untuk menuliskan apa yang telah dikatakannya. Dia melakukannya dan menyerahkan Injil tersebut kepada mereka yang telah memintanya. Petrus mengetahui Injil ini, tetapi dengan melihat sikapnya, tampaknya dia tidak menghalangi atau pun mendorongnya.”

Bagian pertama dari pernyataan tersebut tertulis dengan huruf italic (miring), secara apriori menolak Injil tersebut sebagai dokumen yang diwahyukan. Pada bagian kedua Clement mengakui bahwa Injil tersebut ketika ditulis oleh Markus tidak diterima maupun ditolak oleh Petrus, dimana Injil ini didasarkan atas ajaran-ajarannya . seandainya Injil ini merupakan catatan asli dari ajaran-ajarannya Pastilah Petrus akan memuji dan menyetujuinya. Tetapi pada saat yang sama kegagalannya untuk menghalanginya juga tidak secara jelas mendukung pandangan bahwa dia menerimanya. Fenomena aneh ini secara memadai dijelaskan oleh kenyataan bahwa dia lebih memilih diam karena mengkhawatirkan pertikaian di dalam lembaga gereja. Bagaimana pun juga, sikap diamnya Petrus terhadap Injil tersebut memperlihatkan penolakannya.[29]

               b. Injil Lukas
               Rev. Somerville berpendapat bahwa “masa penulisan Injil tersebut tampaknya adalah sekitar tahun 80 M., tetapi mungkin beberapa tahun lebih awal atau lebih akhir tidak ada cukup bukti yang meyakinkan. Lukas, penyusun Injil ini menurut surat Paulus adalah seorang dokter.[30] 
               Dalam pernyataan pendahuluannya bagi kitab tersebut, dia mempersembahkan kitab Injil ini kepada Teophilus, seorang pemikir Romawi yang terkenal. Kata pengantar tersebut berbunyi:
“Teofilus yang mulia, banyak orang yang telah berusaha menyusun berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan terataru bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”[31]
               Mengenai tujuan utamanya dalam menulis kitab ini, Miss Mary E. Chase menyatakan bahwa “jelas ini dimaksudkan untuk menulis kehidupan Yesus yang disusun dengan bentuk penulisan yang sangat umum di masanya, yang di antara karya-karya biografis lainnya telah menghasilkan sejarah kehidupan Plutarch”. Lukas menulis narasinya sebagai hadiah bagi Theophilus dan dia tidak pernah mengira bahwa karyanya akan melengkapi PB yang diakui secara resmi oleh orang-orang Kristen di masa datang.[32]        
 
d. Injil Yohanes
               Injil Yohanes merupakan Injil terakhir yang sangat berbeda dari tiga Injil sebelumnya. Dalil yang menguatkan bahwa Injil ini dianggap sebagai “Injil murid Yesus” yang bernama Yohanes adalah satu ayat dari kitab itu sendiri:
               “Murid inilah yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, dan telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksian ini benar.”[33] Ayat inilah dianggap sebagai ayat penguat bahwa Injil Yohanes benar-benar ditulis oleh murid Yesus, Yohanes. Benarkah demikian?
               Injil ini tidak menjelaskan siapa nama penulisnya, atau identitasnya. Tidak ada isyarat yang menunjukkan bahwa penulisnya adalah Yohanes anak Zebedeus.[34] Dan sejarah penulisnnya tidak dapat dipastikan secara mutlak. Kaum Kristen awal mengisyaratka bahwa Injil ini ditulis pada abad ke-2, karena adanya potongan pohon Papyrus yang mereka temukan: yang mengisyaratkn tentang Injil ini. Kemudian, para penulis Kristen di akhir abad ke-2 mengklaim bahwa Injil ini merupakan Injil terakhir, dan sebagai penyempurna tiga Injil sebelumnya.[35] Injil ini ditulis di atau dekat Ephesus antara tahun 110 dan 115 M. oleh seorang penulis yang cenderung anti-semit (anti-semitically): yang tampak jelas representasi orang-orang Yahudi sebagai musuh Yesusu Kristus. Tidak ada seorang ilmuwan pun yang menganggap bahwa Injil ini sebagai hasil kerja Yohanes anak Zebedeus (John the Son of Zebedee), yang menurut R. H. Charles, Alfred Loys, Robert Eisler dan yang lainnya, yang dipenggal kepalanya oleh raja Agrippa I pada tahun 44 M.: jauh sebelum Empat Injil ditulis. Para pakar Bible modern meragukan keaasliannya. Bukan saja pandangan penulisnya yang dituangkan di dalam Injilnya, tapi juga kata-kata yang diletakkannya “pada mulut Yesus Kristus.[36] Injil ini dimasukkan ke dalam daftar PB pada tahun 200 M.[37]
               Tentang pengarangnya siapa: apakah Yohanes seorang Hawriy (murid setia Yesus) atau Yohanes yang lain, pendeta dari Alexandria pada abad ke-3, Dronyeus, menyatakan bahwa pengarang Injil ini bukan Yohanes. Hal ini beliau kuatkan dengan adanya dua kuburan di Efesus yang masing-masing dijadikan kuburan seorang Hawariy yang bernama Yohanes.[38] John Marsh dalam bukunya Saint John, seperti yang dikutip Dr. al-Syarqâwî, menyatakan bahwa merupakan hal yang mustahil untuk diyakini jika paa sepuluh tahun terakhir dari abad ke-1, seorang yang bernama “Yohanes”, yang mungkin saja Yohanes Markus (bukan yang lazim dikenal: Yohanes anak Zebedeus si nelayan, salah seorang Hawariy yang dua belas), telah memiliki informasi yang banyak tentang Yesus. Dan ada kemungkinan bahwa dia mengetahui satu atau lebih dari Injil-injil yang serupa (Matius, Markus dan Lukas), lalu ia menuliskan kisah Yesus dalam bentuk baru, yang ia khususkan untuk kelompoknya: yang menganggap dirinya universal. Sebagaimana pula ia terpengaruh dengan adanya murid Yohanes si Pembaptis.[39] 
               Dari pemaparan singkat tentang keempat Injil di atas, dapat disimpulkan bahwa ternyata pengarang Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bukanlah murid Yesus: yang pernah bertemu dan hidup dengan Yesus. Dengan demikian, lemah lah argumentasi umat Kristen bahwa penulis Injil berdasarkan “saksi mata”. 
 
               e. Injil-injil Apokripa

Setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M, para murid Yesus menyebar dan dalam sekejap catatan mereka tentang ajaran-ajaran Yesus juga pergi bersama angin dengan pengecualian yang sangat langka. Untuk menggantikan posisi mereka, beberapa penulis tidak dikenal muncul kepermukaan dengan menulis narasi-narasi independen atau Injil-injil. Agar mendapatkan penerimaan publik, mereka menisbahkan karyanya kepada murid-murid Yesus terkemuka. Di samping empat Injil yang diakui secara resmi dan tulisan-tulisan lainnya yang dimasukkan dalam Perjanjian, terdapat beberapa Injil atau dokumen lain yang telah dikutuk oleh gereja dan disebut sesat. Secara kasar Sunderland menyebutkan jumlah Injil-injil apokripa semacam ini sebanyak 109 buah, tetapi penggalian-penggalian terakhir (1946) telah menaikkah jumlahnya sampai tingkatan yang sangat besar.[40] Diantara nama-nama Injil Apokripa itu adalah: Injil Barnabas[41], Injil Mathias, Injil Basilides, Injil Apelles, Injil Hawa, Injil Yudas Iskariot,  Injil Mesir, Injil Petrus, Injil Orang Ibrani, Injil Marcion, Injil Dua Belas Murid Yesus, Injil Masa Kecil Thomas, Injil Necodemus, Injil Valentinus, Injil Philip.[42]

Injil Barnabas

Injil ini ditulis St. Barnabas, salah seorang dari dua belas murid Yesus. Kita menemukan penyebutan pada banyak tulisan abad kedua dari para pakar Kristen yang terkemuka, Encyclopaedia Britannica (artikel: Aprocyphal Literature) dan penyebutannya pada Keputusan Gelasius (500 M) menunjukkan bahwa Injil ini telah digunakan oleh gereja-gereja Kristen sampai pelarangannya di bawah keputusan yang disebut di atas dan sejak itu sangat disayangkan Injil ini hilang atau secara sengaja dihancurkan oleh bapak-bapak gereja. Encyclopaedia Americana mencatat:

“Juga terdapat Injil Barnabas, yang disebutkan oleh beberapa penulis kuno, khususnya dalam keputusan Glasius (500 M).”[43]

Gereja benar-benar menolak kehadiran Injil yang satu ini. Ada alasan yang cukup mendasar, kenapa Injil ini ditolah habis-habisan oleh gereja. Menuru Dr. Hamid Qadri, alasan mengapa Injil ini tidak mendapat pengakuan gereja adalah sangat jelas; Injil ini didasarkan kepada ajaran-ajaran Yesus, sementara gereja dibangun di atas pemikiran-pemikiran palsu St. Paulus yang jauh lebih rendah, dan sangat ironis tercatat bahwa Paulus diperkenalkan kepada para murid Yesus Barnabas. (Kisah Para Rasul 9: 27). Tetapi ketika Barnabas menemukan bahwa Paulus tengah memperkenalkan ajaran bid‘ah (sesat) pada agama Yesus, dia memutuskan hubungan dengan Paulus dan pergi ke Cyprus.[44]

Bagaimana Injil Barnabas ditemukan? Injil Barnabas diketahui telah beredar pada abad ke-1 dan ke-2 dari tulisan Ireneus (130-200 M), untuk mendukung ajaran tentang keEsaan Tuhan Allah dan menentang ajaran Paulus. Injil ini diterima sebagai Canonical Gospel (Injil Induk) di gereja-gereja Alexandria sampai tahun 325.

Ketika diadakan Konsili Nicea tahun 325 M, doktrin Trinitas (Trinity) dinyatakan sebagai doktrin resmi gereja Kristen Paulus, sempat Injil sekitar 300 Injil yang ada saat itu ditetapkan sebagai Injil resmi gereja Kristen Paulus dan Injil Barnabas diperintahkan untuk dihancurkan (dihilangkan) dan dimusnahkan termasuk Injil yang berbahasa Hebrew (Ibrani).

Dalam Konsili Nicea itu telah ditetapkan suatu undang-undang bahwa berangsiapa yang terbukti memiliki Injil yang tidak resmi (tidak diakui gereja Kristen Paulus) akan dijatuhi hukuman mati.

Hal ini merupakan usaha pertama kali yang diorganisir dengan sangat baik untuk melenyapkan semua catatan tentang ajaran asli sebenaranya yang disampaikan oleh Yesus, yang bertentangan dengan doktrin Trinitas (Trinity). Hal ini pula yang berarti bahwa ajaran Kristen Paulus menentang ajaran Kristen Yesus yang menetapkan keEsaan Tuhan Allah Yang Maha Kasih dan Maha Sayang. Hal ini juga berarti bahwa ajaran Kristen Paulus menentang ajaran hukum Taurat Musa. Dan ternyata Injil Barnabas lolos dari sergapan undang-undang itu, dan buku keberadaannya tetap bertahan sampai hari ini.[45]

f. Benarkah Injil itu Diinspirasikan?

Umat Kristen mengklaim bahwa Injil ditulis berdasarkan “inspirasi” Roh Kudus (Divine Inspirtation). Benarkah demikian? Inspirasi, menurut Prof. Al-A‘zamî, ide bahwa Tuhan secara nyata memberikan visi atau kemampuan atau wahyu secara langsung kepada seseorang merupakan konsep yang netral dari semua agama monoteistik. Akan tetapi, PB tidak pernah mengklaim dirinya sebagai karya dari sebuah inspirasi. Satu-satunya bagian yang mungkin menunjukkan inspirasi ini adalah 2 Timotius 3: 16, bahwa, “Setiap Kitab Suci terinspirasikan dan berguna untuk pengajaran.” Yang dimaksud di sini bagaimanapun juga adalah PL, sebab PB belum lagi dikompilasikan dalam bentuk yang kita kenal kini. Seorang penulis abad kedua, Justin Martyr, lebih lanjut mengklarifikasi bahwa inspirasi ini dimaksudkan bukan pada teks Ibrani yang ada, tapi hanya pada keakuratan penerjemahannya ke dalam bahasa Yunani Kuno.*

Sarja-sarjana Kristen sering membumbui tulisan-tulisan mereka dengan terminologi ‘inspirasi’; misalnya P. W. Comfort menyatakan, “Individu-individu tertentu…diberi inspirasi oleh Tuhan untuk menulis penjelasan-penjelasan Injil untuk membakukan tradisi oral.”* Dan lagi, para juru tulis yang mengopi PB pada tahap belakangan, “Mungkin menganggap diri mereka telah terinspirasikan oleh roh dalam membuat penyesuaian-penyesuaian tertentu dengan contoh.”* Namun, para pengarang empat Injil yang anonim itu boleh jadi sangat tidak sependapat dengan Prof. Comfort. Injil terawal, Markus, yang dianggap sebagai sumber utama oleh para pengarang Matius dan Lukas, yang telah mengubah, menghapus, dan menyingkat banyak kisah-kisah Markus. Perbuatan semacam ini tidak akan mungkin terjadi jika mereka menganggap bahwa Markus diberi inspirasi oleh Tuhan, atau bahwa kata-katanya merupakan kebenaran sejati.[46]

III. Beberapa Problem PB

Sejak lama, para ilmuwan Kristen telah meragukan keabsahan Bible, khususnya PB. Mereka sudah meragukan autentisitas Kitab Suci mereka sendiri. Karena ternyata Bible banyak mengandung problem, baik dari segi teks mapun maknanya.[47] Sebuah pengakuan jujur datang dari Dr. W. Graham Scroggie dari Moody Bible Institute, Chicago. Beliau adalah seorang penginjil yang paling dihormati di dunia. Ia menjawab pertanyaan – “Apakah Injil Merupakan Firman Tuhan?” (juga judul bukunya), di bawah judul: Bersifat Manusia, Juga Bersifat Ketuhanan, dikatakan pada halaman 17:

“Benar, Injil adalah bersifat manusia, meski bberapa orang yang tidak berdasarkan pengetahuan, telah mengingkari hal ini. Kitab-kitab itu telah melalui pikiran manusia, ditulis dalam bahasa manusia, dan dengan tangan manusia, dan mengandung gaya karakteristik manusia.”

Salah seorang Kristen terpelajar lainnya, Kenneth Cragg, Uskup Anglican dan Yerusalem, berkata dalam bukunya “The Call of the Minaret” pada halaman 277:

“Tidak begitu dengan Perjanjian Baru…Terdapat penyingkatan dan editing; terdapat pilihan, reproduksi dan pembuktian. Di balik penulis Kitab tersebut terdapat pemikiran gereja. Kitab tersebut mewakili pengalaman dan sejarah.”[48]

a. Problem Varian PB

PB (The New Testament) juga menghadapi banyak problem otentisitas teks. Professor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks PB. Satu bukunya berjudul The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restorution (Oxford University Press, 1985). Dalam bukunya yang lain, yang berjudul A Textual Commentary on the Greek New Testament (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menulis di pembukaan bukunya, ia menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penfsir Bible, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya.

Bahasa Yunani (Greek) adalah bahasa asal The New Testament. Melalui bukunya ini, Metzger menunjukkan, rumitnya problem kanonifikasi Teks Bible dalam bahasa Greek. Banyaknya ragam teks dan manuskrip menyebabkan keragaman teks tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada sekitar 5.000 manuskrip teks Bible dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Cetakan pertama The New Testament bahasa Greek terbit di Basel pada 1516, disiapkan oleh Desiderius Erasmus (ada yang menyebut tahun 1514 terbit The New Testament edisi Greek di Spanyol). Karena tidak ada manuskrip yang lengkap, Erasmus menggunakan berbagai versi Bible untuk melengkapinya. Untuk Kitab Wahyu (Revelation) misalnya, ia menggunakan versi Latin susunan Jerome, Vulgate. Padahal teks Latin itu sendiri memiliki keterbatasan dalam mewakili bahasa Greek.

Dalam bukunya yang lain, The Early Versions of the New Testament, Metzger mengutip tulisan Bonifatius Fischer, yang berjudul Limitation of Latin in Reprsenting Greek. Dalam buku itu, Fischer dikutip Metzger menulis, “Meskipun bahasa Latin secara umum sangat cocok untuk digunakan menterjemahkan dari bahasa Yunani, tetap saja ada bagian-bagian yang tak bisa diekspresikan dalam bahasa Latin.”[49] Ini dapat dimaklumi, karena “bahasa” terjemahan, bagaimana dan apa pun bentuknya, tidak akan pernah bisa “menyamai” bahasa aslinya. Maka dapat dikatakan bahwa versi Bible merupakan “versi dinamis”, yang senantiasa berubah setiap saat, jika ada kepentingan yang memungkinkan untuk merubahnya.

b. Problem Perubahan Teks

Kaum Kristen, ternyata sangat terbiasa dalam ‘mengotak-atik’ teks Bible mereka, sesuai “kepentingan”. Dalam sebuah artikel berjudul, “The Contemporary English Version: Inacurate Translation Tries to Soften Anti-Judaic Sentiment,” Joseph Blenkinsop  mendiskusikan sebuah contoh seperti berikut:

“Versi Inggris Kontemporer dari Bibel (CEV), dipublikasikan tahun lalu oleh the American Bible Society… adalah secara aktif disponsori oleh the American Interfaith Institute… sebagai Bibel pertama yang tidak ‘ mengandung anti-Yudaisme. Ada kalanya hal ini disebabkan retranslasi (penerjemahan ulang), atau dalam beberapa kasus parafrasa (uraian dengan kata-kata sendiri) atau bahkan omitting (penghapusan), beberapa sindiran prejudis tertentu pada orang-orang Yahudi dalam Perjanjian Baru.*

Selanjutnya dia menyebutkan beberapa contoh di mana ‘orang-orang Yahudi’ (the Jews) telah diubah menjadi ‘orang-orang’ (the people), ‘sekumpulan besar orang Yahudi’ (a great crowd of the Jews) menjadi ‘orang banyak’ (a lot of people), dan seterusnya, begitu juga seperti memperlunak “Terkutuk­lah kalian, para juru tulis dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik!’*. menjadi ‘Celakalah kalian orang-orang Farisi dan guru-guru agama! Kalian tukang berpura-pura’. Tujuan penerjemah, dia menyimpulkan, seharusnya mengikuti teks secara tulus, bukannya membujuk atau memelintirnya menjadi sebuah ucapan yang ingin dikatakan oleh penerjemah.*

Rasanya sulit untuk diterima oleh akal sehat, jika sebuah “Kitab Suci” diotak-atik sesuai dengan ‘pesan sponsor’. Akhirnya, Yahudi ternyata lebih ditakuti oleh para previsi Bible, ketimbang Tuhan, yang jelas-jelas diklaim oleh mereka sebagai Tuhan yang menurunkan Bible itu sendiri.[50] Berinteraksi dengan dengan “Kitab Suci” lewat logika “pragmatis” biasanya tak menguntungkan.

c. Problem Kontradiksi Ayat Antar-Injil

1. Silsilah Yesus: Daud → Yesus

Menurut                                   Menurut

Matius 1: 6-16                            Lukas 3: 23-31

Daud

  1. Sulaiman                       1. Natan                        21. Sealtiel
  2. Rehabeam                     2. Matata                       22. Zerubabel
  3. Abia                              3. Mina                         23. Resa
  4. Asa                               4. Melea                                    24. Yohanan
  5. Yosafat                          5. Elyakim                     25. Yoda
  6. Yotam                           6. Yonam                       26. Yosekh
  7. Uzia                              7. Yusuf                         27. Simei
  8. Yotam                           8. Yehuda                      28. Matica
  9. Ahas                             9. Simeon                      29. Maat
  10. Hizkia                           10. Lewi                                    30. Nagai
  11. Manasye                                    11. Matat                       31. Hesli
  12. Amon                           12. Yorim                      32. Nahum
  13. Yosia                             13. Eliezer                     33. Amos
  14. Yekhonya                      14. Yesua                       34. Matica
  15. Sealtiel                          15. Er                            35. Yusuf
  16. Zerubabel                      16. Elmadam                  36. Yanai
  17. Abihud                          17. Kosam                     37. Malkhi
  18. Elyakim                         18. Adi                          38. Lewi
  19. Azor                              19. Malkhi                     39. Matat
  20. Zadok                            20. Neri                         40. Eli
  21. Akhim
  22. Eliud
  23. Eleazer
  24. Matan
  25. Yakub

26. Yusuf                                      ↔                                 41. Yusuf

Yesus

NB:

  1. Matius menyatakan dalam Injilnya: dari Abraham Daud: 14 generasi; Daud masa bangsa Israel di buang ke Babel: 14 generasi; Dari masa bangsa Israel di buang ke Babel sampai kelahiran Kristus: 14 generasi. (Matius 1: 17). Matius “salah hitung”, karena pada generasi terakhir, mulai dari 1: 12-16, Matius hanya menyebutkan 13 nama, bukan empat belas, yaitu: (1) Yekhnonya, (2) Sealtiel, (3) Zerubabel, (4) Abihud, (5) Elyakim, (6) Azur, (7) Zadok, (8) Akhim, (9) Eliud, (10) Eleazer, (11) Matan, (12) Yakub, (13) Yusuf siami Maria.
  2. Menurut para penafsir Bibel, ada kemungkinan bahwa Matius bertumpu pada Kitab 1 Tawarikh (3: 5, 10-16). Hanya saja, dia menghilangkan tiga generasi antara: Yehoram dan Yotam, sebagaimana dia menghapus Yoyakim setelah Yosia.
  3. Matius bisa mengambil tiga nama: Yoyakhin, Sealtiel dan Zerubabel dari Kitab 1 Tawarikh 3: 16 dan yang berikutnya. Sedangkan nama-nama yang lainnya yang ada di dalam daftarnya, tidak memiliki sumber tertulis, sepengetahuan kami.
  4. Secara ringkas, dalam masalah silsilah Yesus ini, jika kita anggap Kitab 1 Tawarikh merupakan mean reference (al-marja‘ al-ra’îsiy) bagi keturunan nenek-moyang Yesus, maka kita menemukan beberapa poin di bawah ini:
    1. Matius berbuat kesalahan dalam silsilah nasab Kristus ketika “menggugurkan” lima nama (silsilah no: 9, 10, 11, 18, 21).
    2. Lukas membuat kesalahan ketika menambahkan Resa (silsilah ke-23) antara Zarubabel dan Yohanan.
    3. Secara nyata, Lukas berbeda pendapat dengan Matius, ketika menjadikan Yusuf suami Maria berasal dari “Natan” anak Daud. Sementara Matius, menjadikannya berasal dari keturunan Sulaiman anak Daud.
    4. Karena Matius dan Lukas masing-masing menukil silsilah nasab Kristus dari sumber yang berbeda-beda, maka kesalahannya semakin terakumulasi. Hasilnya adalah: generasi yang ada dari Daud sampai Yusuf mencapai 27 dalam riwayat Matius, dan 42 dalam riwayat Lukas.

Dari penjelasan di atas, tidak mungkin diambil salah satu dari riwayat tersebut: baik riwayat Matius maupun Lukas tentang nasab Kristus. Karena, jika kita anggap “benar” salah satunya, maka yang lainnya “salah”. Ini tidak dapat diragukan.[51]

d. Nama-nama Murid Yesus

Dalam menyebutkan nama-nama murid Yesus, Injil juga berbeda dan berselisih. Hal ini dapat kita urut sebagai berikut:

1. Matius: (1) Simon (yang disebut juga Petrus) dengan saudaranya (2) Andeas, (3) Yakobus dengan saudaranya (4) Yohanes (anak-anak Zebedeus), (5) Filipus, (6) Bartolomeus, (7) Tomas, (8) Matius (penagih pajak), (9) Yakobus anak Alfeus, (10) Tadeus, (11) Simon (si Patriot), dan (12) Yudas Iskariot. (Matius 10: 1-4).

2. Ini sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Markus (3: 16-19).

3. Tetapi Lukas berbeda: (1) Simon, (2) Andreas saudara Simon, (3) Yakobus, (4) Yohanes, (5) Filipus, (6) Bartolomeus, (7) Matius, (8) Tomas, (9) Yakobus anak Alfeus, (10) Simon si Patriot, (11) Yudas anak Yakobus, dan (12) Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.

4. Dan Yohanes menyebutkan sebagian nama murid-murid, diantaranya: (1) Yudas yang lain, bukan pengkhianat. (Yohanes 14: 22).

Jadi jelas, ada perbedaan riwayat: antara yang disebutkan oleh Matius, Markus, dari satu sisi. Dan pada sisi yang lain, ada perbedaan antara apa yang disebutkan oleh Lukas dan Yohanes. Dalam hal ini, John Craid menyatakan:

“Ketika Injil ditulis, tidak ada yang disebut dengan cek validitas (verifikasi) yang sempurna tentang sosok para murid. Yudas anak Yakobus, tidak disebutkan dalam daftar di Injil Markus dan Matius, sementara posisinya disibukkan oleh Alfeus dan Tadeus.

Lebih dari itu, nama Yudas (bukan pengkhianat) disebutkan di dalam terjemah-terjemah Bible yang otoritatif* untuk Injil Lukas: sekali menggunakan nama Yudas saudara Yakobus, dan sekali dengan nama Yudas anak Yakobus.[52]

Daftar kesalahan dalam PB ini tentu saja semakin menambah keraguan, bagi siapa saja yang ingin mencerna dan menghayati secara “jurdil”. Karena bagaimana pun, kesalahan-kesalahan fatal seperti itu, tidak bisa disembunyikan di balik “apologi-apologi” tanpa dasar. Atau hanya sekedar membela agama tanpa sandaran kuat, terutama bukti tertulis dari PB itu sendiri.

Epilog

Dari pemaparan yang sederhana ini, dapat dikatakan bahwa PB tidak murni Firman Allah. Dengan demikian, ia tidak bisa dianggap sebagai “Wahyu Tuhan”, karena jika diteliti lebih dalam, isi dan subtansi PB semakin mengacaukan kosenp “Kitab Suci” yang dibangun berdasarkan ‘Wahyu Ilahi” ini. Secara tegas, Thomas Paine dalam bukunya The Age of Reason, seperti yang dikutip oleh Dr . Hamid Qadri, menyatakan:

“Wahyu secara pasti tidak ada hubungannya dengan kitab-kitab ini, bukan saja karena adanya perbedaan di antara para penuls, tetapi karena pengungkapan tidak bisa diterapkan untuk menghubungkan fakta-fakta tersebut terjadi, atau pengungkapan atau pembicaraan oleh mereka yang mendengarnya.”[53]

Sebagai kesimpulan, kesalahan-kesalahan Bible, baik PL maupun PB, merupakan bukti bahwa Al-Qur’an bukan hanya sekedar mushaddiq lima bayna yadayhi min al-kitab, tapi juga sebagai wa muhayminan ‘alayhi. Jika Injil diturunkan untuk melengkapi Taurat, maka sejatinya Al-Qur’an turun untuk melengkapi Injil. Sudah seharusnya, ‘orang’ yang memiliki Al-Qur’an bangga dengan Al-Qur’annya, karena tidak akan ada kitab yang turun lagi untuk “menyempurnakan” Al-Qur’an, karena sudah sempurna. Wallahu a‘lambi bi al-shawab. []

(Abbas el-Akkad, 14 September 2006)

*) Qosim Nursheha Dzulhadi, peminat Qur’anic-Hadith Studies dan Kristologi.


 
 
 
 
 
 
 
 


[1] Dr. Ahmad Syalabi, al-Masîhiyyah, dalam serial Muqâranat al-Adyân (2), (Cairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, cet. X, 2000), hlm. 215.

[2] Surat-surat  dari  Paulus ditulis antara tahun 50 dan  54  dari  Korintus  dan   Epesus   kepada   orang-orang Tesalonika,  orang-orang  Korintus,  orang-orang Galatia dan orang-orang Roma. Pada tahun 58 dari Roma kepada orang Pilipi dan  Kolose. Pada  tahun 65 surat kepada orang-orang Ibrani (katanya oleh Paulus). 

[3] Ahmad Thâhir, al-Anâjîl: Dirâsah Muqâranah, (Cairo: Dâr al-Ma‘ârif, tanpa tahun), hlm. 23. Satu-satunya naskah yang sekarang dikenal di dunia, yang darinya Injil Barnabas ini dinukil adalah naskah Italia dari perpustakaan Viena. Naskah ini merupakan khazanah yang sangat berharga dari khazanah dan peninggalah sejarah dalam perpustakaan ini. Injil ini terdiri dari 225 lembar besar. Ia berjumlah satu jilid yang memiliki dua sampul yang tipis dan kuat. Ia diapit oleh dua kulit yang berwarna gelap (kehitam-hitaman) agak kekuning-kuningan. Lihat lebih jelas, Injil Barnabas, diarabkan oleh Dr. Khalîl Sa‘âdah, dikenalkan oleh Dr. Ahmad Hijâzî al-Saqaa dan pengantar oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, (Cairo: Dâr al-Basyîr, tanpa tahun), 15 (dalam mukadimah penerjemah). Menurut Dr. Ahmad Hijâzî al-Saqaa, Injil Barnabas ini muncul dalam bahasa Arab pada tahun 1908. Salah satu isinya yang sangat nyata dalam Injil ini adalah: Kristus, ‘Isa ibn Maryam ‘alayhissalam telah memberi kabar gembira kepada Bani Israil tentang telah mendekatnya zaman kedatangan nabi Islam: Muhammad SAW. Lihat, ibid., hlm. 33. Injil ini sangat berbeda dengan empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) – sebagaimana yang dikatakan oleh penerjemahnya – dalam beberapa hal: (1) Yesus mengingkari ketuhanan (ilâhiyyah)nya; (2) Yesus mengatakan bahwa yang menjadi “kurban” (al-dzabîh) adalah Isma‘il, bukan Ishaq; (3) Mesias yang akan datang adalah Muhammad, bukan Yesus; dan (4) Yesus tidak dibunuh dan tidak disalib. Ibid.

[4] Dr. Khalil Ahmad Khalil, Mu‘jam al-Mushthalahât al-Dîniyyah (Arab – Perancis – Inggris) (4), (Beirut – Lebanon: Dâr al-Fikr al-Lubnânî, cet. I, 1995), hlm. 36. Untuk penjelasan tentang arti “Kabar Gembira” ini dapat dilihat dalam Kitab – Yesaya 40: 9 dan Markus 1: 14-15.

* Teks Inggrisnya berbunyi: “No writer from the time when the Gospels were written has left us any information that would enable us to answer the question, What is a Gospel?”

[5] Ir. Ahmad ‘Abd al-Wahhâb, al-Masîh fî Mashâdir al-‘Aqâ’id al-Masîhiyyah: Khulâshah Abhâts ‘Ulamâ’ al-Masîhiyyah fî al-Gharb, (Cairo: Maktabah Wahbah, cet. II, 1988), hlm. 43-44.

* Lihat II Samuel 4 dan 18, I Samuel 31, Yesaya 41, Yeremia 2 dan yang lainnya.

[6] Ahmad Idris, Târîkh al-Injîl wa al-Kanîsah, (Makkah al-Mukarramah: Dâr Hirâ’, tanpa tahun), hlm. 61-62.

[7] Maurice Bucaille, al-Tawrât wa al-Anâjîl wa al-Qur’ân bi Miqyâs al-‘Ilm al-Hadîts, terjemah: ‘Ali al-Gawhary, (Cairo: Maktabah al-Qur’ân, tanpa tahun), hlm. 92. Buku yang memiliki judul asli “La Bible Le Coran Et La Science” ini di Indonesia, buku ini telah diterjemahkan oleh Prof. Dr. H. M. Rasyidi dengan judul “Bibel, Qur’an dan Sains Moder” (Jakarta: Bulan Bintang, 1979). Versi berjudul “The Bible, The Qur’an and the Science”.

* Umat Nasrani berpandangan bahwa Injil-injil tersebut diwahyukan dari Allah. Di awal terjemah tafsiriyyah untuk Injil-injil tahun 1983 disebutkan sebagai berikut:

“Pada abad pertama masehi Roh Kudus berkehendak untuk mewahyukkan kepada empat orang untuk menuliskan Injil. Maka, setiap orang dari mereka memfokuskan diri pada satu sisi kehidupan Yesus dan kepribadiannya yang fantastic.” Jadi, Injil yang ditulis oleh Matius memfokuskan diri pada nasab (silsilah keturunan) Kristus; Kristus adalah raja yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang Yahud. Tetapi, ketika ia datang, mereka malah membunuh dan menyalibnya. Padahal, dia adalah anak Dawud yang dengannya nubuwat (ramalan) PL sempurna. Dan dia – juga – adalah anak Ibrahim, yang membawa berkat untuk seluruh bangsa. Yesus adalah pendiri gereja Tuhan yang ia mengorbanak darah untuknya, yang dengannya tiang neraka tidak kuat menahannya. Injil ini mengandung pilihan dari ajaran-ajara Yesus, khususnya yang berbicara tentang “kerajaan langit”. Maka, ia menyingkap berbagai rahasianya lewat tamsil-tamsil. Ia juga mengabarkan apa yang bakal terjadi di akhir zaman dan ketika kedatangan Yesus sebagai seorang raja. Injil ini di akhir berbicara tentang penderitaan Kristus, kematian dan kebangkitannya.” (al-Tarjamah al-Tafsiriyyah), jumlah pasalnya adalah 18 pasal.

* Injil Markus memfokuskan diri pada mukjizat-mukjizat Kristus, lebih banyak daripada memfokuskan diri pada ajaran-ajarannya. Injil ini diakhiri dengan akhir dari dunia ini; apa yang bakal terjadi ketika Yesus kembali; menceritakan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan penderitaan Kristus: kematian, kebangkitan dan kenaikannya pada derajat kemuliaan. Injil ini juga menguatkan bantuan Yesus kepada para muridnya dalam menyebarkan kabar gembira di dunia seluruhnya. Jumlah pasal Injil ini adalah 16 pasal. Ibid., hlm. 45.

* Kristus dalam Injil ini adalah “anak manusia” yang menyelamatkan seluruh dunia. Di dalamnya Lukas secara rinci seputar kehidupan Kristus di atas dunia. Ia secara pribadi menulis beberapa fakta, peristiwa dan tamsil-tamsil yang memfokuskan pembahasannya bahwa Kristus adalah “seorang manusia sempurna”. Injil ini dimulai dari cerita tentang kelahiran Kristus, masa kanak-kanak dan pelacakan atas pengabdiannya sejak awal. Di akhir Injil ini menceritakan tentang penderitaan Kristus, kematian, kebangkitan dan kenaikannya. Yang menarik perhatian adalah: Lukas menjelaskan ajaran-ajaran Kristus lewat perumpamaan-perumpamaan.” Ibid., hlm. 73. Jumlah pasal Injil ini adalah 24 pasal.

* Injil ini dimulai dengan pembicaraan tentang keazalian Kristus, tajassud (reinkarnasi)nya, tuntutannya atas kesaksian Yahudi, penolakan Yahudi atas dirinya. Lalu, Injil ini menjelaskan tentang ucapan-ucapan khususnya kepada para muridnya dan doanya untuk mereka. Kemudian Injil ini berakhir dengan kisah penderitaan Kristus, penyaliban dan kebangkitannya.” Ibid., hlm. 120. Jumlah pasalnya adalah 21 pasal.

[8] Dr. ‘Abd Allâh al-Syarqâwî, Buhûts fî Muqâranat al-Adyân, (Cairo: Dâr al-Fikr al-‘Arabî, 2000), hlm. 129, 131-135. Lihat juga, Dr. Ahmad Syalabi, op. cit., hlm. 215-217. Khusus untuk kitab terakhir, Dr. Ahmad Syalabi menyatakan bahwa lebih layak umat Kristen untuk menghapus kitab “Wahyu” ini dari daftar Bibel, karena lebih dekat kepada “khurafat”. Alasan beliau berdasarkan kitab tersebut, pasal 12, yang menceritakan tentang “Wanita dengan Naga”. Yohanes menggambarkan Kristus dengan “domba kurban” (al-khurâf al-madzbûh), dalam pasal 16. Dan Yohanes mengulang-ulang kata “domba” ini. Dalam penyerupaan Yesus dengan domba ini, seorang novelis Inggris modern, D. H. Lorance menyatakan: “Aku merasa jijik untuk mengaitkan Kristus dengan domba kurban itu, padahal domba-domba lebih bodoh dan lebih berani di dalam kerajaan binatang.”

[9] Imam Muhammad Abu Zahrah, Muhâdharât fî al-Nashrâniyyah: Buhûts fî al-Adwâr al-Latiy marrat ‘Alayhâ ‘Aqâ’id al-Nashârâ wa fî Kutubihim wa fî Majâmi‘ihim al-Muqaddasah wa Firaqihim, (Cairo: Dâr al-Fikr al-‘Arabiy, tanpa tahun), hlm. 38.

[10] Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments, edisi Indonesia: Sejarah Teks Al-Qur’ân, dari Wahyu Hingga Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, terjemah: Sohirin Solihin, Anis Malik Thaha, Ugi Suharto dan Lili Yulyadi, (Jakarta: Gema Insani Press, cet. I, 2005), hlm. 311.

[11] Ibid., hlm. 311-312.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ulfat Aziz-us-Samad, Islam and Christianity, (Cairo: Al-Falah Foundation for Translation, Publication & Distributin, , 2003), hlm. 4. Ulfat menulis, “They were composed between fourty or eighty years after the departure of Jesus relying on some earlier documents which are now lost. Biblical scholars have identified some of these earlier documents as (1) ‘Q’ (German: Quelle = ‘Source’), a lost document in Aramaic, which reached te writers of the Gospels in a Greek translation, (2) (‘Umarcus’ = Primitive Mark) an earlier draft of Mark’s Gospel written on the basis of Peter’s discourses about Jesus, and (3) ‘L’, a collection of reports about Jesus used only by Luke.” Lihat juga, Ahmad Thâhir, loc. cit. Menurut Ahmad Thâhir, para pakar Injil berpendapat bahwa lewat komparasi (perbandingan) di atara keempat Injil yang diakui itu, yang menulisnya telah menggunakan dokumen-dokumen yang hilang secara bebas, tanpa aturan. Bahkan mereka tidak ragu-ragu dalam memasukkan berbagai “modifikasi” (ta‘dîlât)  dan “perubahan” (tabdîlât) sesuai dengan keinginan dan tujuan khusus mereka.

[16] “Setelah Yohanes dipenjarakan, Yesus pergi ke Galilea, dan mengajarkan Kabar Baik dari Allah di sana.” (Markus 1: 14).

[17] Paulus menyatakan, “…Dialah Allah yang saya layani sepenuh hati dengan memberikan Kabar Baik tentang Anak-Nya.” (Roma 1: 9), “Saya percaya sekali akan Kabar Baik itu, karena kabar baik itu adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan semua orang yang percaya; pertama-tama orang Yahudi, dan bangsa lain juga.” (Roma 1: 16), dan “…Kabar Baik tentang Kristus telah sudah saya beritakan seluruhnya kepada orang-orang , mulai dari Yerusalem sampai ke Ilirikum.” (Roma 15: 19).

[18] Maksudnya adalah: Injil itu benar-benar sudah dikenal. Berbeda jika kata al-Injil itu ditulis secara nakirah (tanpa lam al-ta‘rîf), Injîlun, bukan al-Injîlu.

[19] Redaksi Bibel berbahasa Arab dalam hal ini berbeda redaksi, misalnya: “Fa’inna Allâha al-ladzî a‘buduhu birûhiy fî Injili ibnihî, syâhidun lîy…” (Al-Kitâb al-Muqaddas, Arabic New Van Dyck Bible, cet. III, 2005); “Fa’inna Allâha al-ladzî akhdimuhû birûhiy fî al-tabsyîri bi’Injîli ibnihî huwa syâhidun lîy…” (al-Injîl: Kitâbu Hayâtin, Tarjamah Tafsîriyyah li al-‘Ahd al-Jadîd, cet. VII, 1987). Injil ini dicetak oleh Dâr al-Tsaqâfah, Mesir; “Fa’inna Allâha al-ladzî akhdimuhû birûhiy fî al-tabsyîr bi’Injîli ibnihî, huwa syâhidun liy…” (God, whom I serve with my whole heart in preaching the Gospel of his Son, is my witness…”) (al-Kitâb al-Muqaddas: Kitâb al-Hayât/Holy Bible New International Version (Bilingual/Arabic-English), 1999). Bibel ini dicetak oleh International Bibel Society, 1820 Jet Stream Drive Colorado Springs. CO 80921-3696. Teks Arabnya berasal dari The Book of Life dan teks Inggrisnya dari The Holy Bibel, New International Version.

[20] ‘Abd al-Wahhâb ‘Abd al-Salâm Thawîlah, al-Kutub al-Muqaddasah fî Mîzân al-Tawtsîq: al-Qur’an, al-Tawrâh, al-Anâjîl, dalam serial Buhûts Islâmiyyah Hâmmah (34), (Cairo: Dâr al-Salâm, cet. II, 2002), hlm. 110-112.

[21] Ir. Ahmad ‘Abd al-Wahhâb, op. cit., hlm. 48-49.

[22] Tentang kondisi ini dapat disimak dalam Kisah Rasul-Rasul 4: 1-17, Kisah Para Rasul 5: 12-18, Kisah Rasul-Rasul 8: 1-3, 9: 109, dan Kisah Rasul-Rasul 12:m1-4.

[23] Ahmad Thâhir, op. cit., hlm.23-24. Lihag juga, Ulfat Aziz-us-Samad, op. cit., hlm. 6.

[24] Maurice Bucailleh, op. cit., hlm. 98.

[25] Ahmad Thâhir, op. cit., hlm. 23. Lihat penjelasannya dalam Injil – Markus 6: 7.

[26] Ahmad Thâhir., ibid.

[27] Ahmad Idris, ibid. hlm. 69.

[28] Ulfat Aziz-us-Samad, op. cit., hlm. 4-5. Lihat juga, Dr. Hamid Qadri, Awan Gelap Dalam Keimanan Kristen, terjemah: Masyhur Abadi & Lis Amalia R., (Surabaya: Pustaka Da‘i, cet. I, 2004), hlm. 163.

[29] Dr. Hamid Qadri, ibid., hlm. 163-165. Lihat juga, Maurice Bucaille, al-Tawrâh wa al-Anâjîl wa al-Qur’ân al-Karîm bi Miqyâs al-‘Ilm al-Hadîts, terjemah: Aly al-Gawhary, (Cairo: Maktabah al-Qur’ân, tanpa tahun), hlm. 102-105.

[30] Kolose 4: 14. Lihat, Dr. Hamid Qadri, op. cit., hlm. 171. Ulfat Aziz-us-Samad menyatakan: “The third Gospel, the Gospel of Luke, was written somewhere in Greece about the year 80 A.C. for the benefit of “the most excellent” Theophilus, probably a high official int the Roman Empire. It was an apologhetic addressed to non-Jews. The writer, who was friend and travel-companion of St. Paul, made use of at least three documents, two of these were identical with those used by the writer of Mathew’s Gospel and the third was peculiar to himself. Luke, who wished to bring his Gospel in line with the Pauline point of view, took even greater liberties with his source than the writer of Mathew’s Gospel had done.” Lihat, Islam and Christianity, op. cit., hlm. 6.

[31] Lukas 1: 1-4. Lihat, Dr. Ahmad Qadri, op. cit., hlm. 171-172.

[32] Ibid., hlm. 173-174.

[33] Yohanes 21: 24.

[34] Ahmad Thâhir, op. cit., hlm. 37.

[35] Ibid., hlm. 37-38. Ketiga Injil sebelumnya (Matius, Markus dan Lukas) dalam tradisi Kristen disebut dengan “Synoptic Gospels” (Injil-injil Sinoptik), karena ketiga diproses dalam basis yang sama: ditulis berdasarkan dokumen-dokumen yang hilang dan memiliki banyak kesamaan.

[36] Ulfat, op. cit., hlm. 7.

[37] Ahmad Thâhir, op. cit., hlm. 35.

[38] Ibid., hlm. 37.

[39] Dr. al-Syarqâwî, op. cit., hlm. 235.

[40] Dr. Hamid Qadri, op. cit., hlm. 179.

[41] Injil Barnabas adalah satu-satunya Injil yang masih bisa ditemukan yang ditulis oleh seorang murid Yesus, yaitu seorang yang menghabiskan waktunya mendampingi Yesus selama tiga tahun dimana selama kurun waktu itu ia mengalami dan mengetahui secara langsung ajaran Yesus, tidak seperti semua pengarang keempat Injil yang sah diakui [mereka menulis Injil dari sumber yang tidak langsung]. Lihat, Robert A. Morey, The Islamic Invasion (Islam yang Dihujat), terjemah: Sadu Suud, (Bekasi-Indonesia: C.V. Focus Muslimedia, cet. II, 2005), hlm. 147 (dalam “Catatan Pinggir” Sadu Suud).

[42] Lihat penjelasan Injil-injil tersebut secara rinci dalam Awan Gelap Dalam Keimanan Kristen, op. cit., hlm. 179-185.

[43] Dr. Hamid Qadri, op. cit., hlm. 180.

[44] Ibid., hlm. 180-181.

[45] Robert A. Morey, op. cit., hlm. 148-149 (dalam “Catatan Pinggir” Sadu Suud).

* Dikutip dari Helmut Koester, “What is – And Is Not – Inspired”, Bible Review, vol. xi, no. 5, Oktober 1995, hlm. 18.

* Dikutip dari P. W. Comfort, Early Manuscript & Modern Translations of the New Testament, Baker Books, 1990, hlm. 3.

* Ibid., hlm. 6.

[46] Dikutip dari H. Koester, op. cit., hlm. 18, 48. Lihat, Al-A‘zamî, op. cit., hlm. 313-314.

[47] Hebrew Bible (Kristen menyebutnya Perjanjian Lama), misalnya, hingga kini masih merupakan misteri. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya Who Wrote the Bible? menulis bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. Ia menulis, “Adalah sebuah fakta yang mengherankan bahwa kita tak pernah tahu secara pasti siapa yang membuat buku itu yang telah menjalankan peran penting dalam peradaban kita (It is a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization.” Ia mencontohkan The Book of Torah, atau The Five Book of Moses, yang diduga ditulis oleh Moses. Book of Lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separuh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidakseorang pun tahu, bagaimana perujukan penulis itu memang benar adanya. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzle in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalam teksnya dijumpai banyak kontradiksi.” Lihat, Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (Jakarta: Gema Insani Press, cet. I, 2005), hlm. 42.

[48] Ahmed Deedat, The Choice: Dialog Kristen Islam, terjemah: Dr. Setiawan Budi Utomo, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, cet. IX, 2003), hlm. 325.

[49] Adian, op. cit., hlm. 42-43. Sebagai contoh untuk keragaman teks Bible ini, silihakan dilihat tulisan Adian Husaini, Studi Awal Keragaman Teks Bible, Jurnal Al-Insan, vol. I, No. I, Januari 2005.

* Dikutip dari Bible Review, vol. xii, no. 5, Oct. 1996, hlm. 42.

* Ini semua sebagaimana yang terdapat dalam Revised Standard Version, Matius 23.

* Bible Review, ibid., hlm. 42. Lihat, Al-A‘zamî, op. cit., hlm. 325.

[50] Di Indonesia, perubahan teks Bible bukan hal yang aneh, karena senantiasa berubah. Sebagai contoh adalah Kitab Imamat 11: 7-8. Kitab Imamat 11:7-8 versi LAI tahun 1971 adalah: “Dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.” Tetapi ayat yang sama versi LAI tahun 2004, sudah mengganti kata ‘babi’ menjadi ‘babi hutan’: “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.” Padahal, dalam Bible terbitan LAI, 2002, kata “babi” masih tetap, belum dibubuhi kata “hutan”. “Jangan makan babi. Binatang itu haram, haram karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.” Lihat, Alkitab: Kabar Baik Di Zaman Baru, (Jakarta: LAI, cet. III, 2002), hlm. 151 (bagian PL). Pembagian binatang yang “halal dan yang haram” dalam Kitab Imamat ini pun terkesan aneh. Di ayat sebelumnya disebutkan, “Jangan makan unta, pelanduk atau kelinci. Binatang itu haram, karena walaupun memamah biak, kukunya tidak terbelah.” (Kitab Imamat 11: 4-6). Ketika mengharamkan “babi” bunyinya, “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak.” (Kitab Imamat 11: 7-8). Jadi, syarat makanan yang halal untuk umat Kristen adalah: ‘kaki terbelah’ dan ‘memamah biak’. Kira-kira apa itu? Alangkah sedikitnya makanan yang halal bagi mereka! Dalam Islam konsepnya jelas di dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 168, “Yâ ayyuha al-nâsu kulû mimmâ fi al-ardhi “halâkan thayyiban” (yang halal, lagi baik).

[51] Lihat, Ir. Ahmad Abdul Wahhâb, op. cit., hlm. 82-83 dan Ahmed Deedat, The Choice, op. cit., hlm. 393 dan Maurice Bucaille, op. cit., hlm. 126130. Lihat kritik Bucaille dalam bukunya, hlm. 130-136.

* “And Judas the brother of James” (A. V.) – “And Judas the son of James” (R. S. V.).

[52] Ir. Ahmad Abdul Wahhâb, op. cit., hlm. 83-84.

[53] Dr. Hamid Qadri, op. cit., hlm. 150-151.


Natal, Syafa‘at dan Sinkretisme Teologis

April 27, 2008

Sabtu, 08 Januari 2005 var sburl9265 = window.location.href; var sbtitle9265 = document.title;var sbtitle9265=encodeURIComponent(“Natal, Syafa’at dan Sinkretisme Teologis”); var sburl9265=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1575″); sburl9265=sburl9265.replace(/amp;/g, “”);sburl9265=encodeURIComponent(sburl9265);Beberapa kelompok dari Islam Liberal melakukan usaha rehabilitasi ‘kecurigaan’ dalam acara Natal yang terjadi tiap tahun. Sayang usaha itu melahirkan ‘sinkretisme teologis’

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

Meski sudah lewat, ada catatan-catatan penting menyangkut perayaan Natal kemarin. Tulisan ini mencermati artikel dua orang aktifis Islam Liberal. Pertama, artikel yang ditulis oleh Mohammad Guntur Romli di www.islamemansipatoris.com (27/12/2004) dengan judul “Natal dan Pesan Dialog Agama”. Kedua, adalah artikel Ulil Abshar-Abdalla yang dimuat di www.islamlib.com (27/12/2004) dengan judul “Pendapat Islam Liberal Tentang Perayaan Natal”.

Guntur, yang juga mahasiswa Al Azhar, saat itu mengatakan, “Saya akan memulai memahami ajaran Kristen dengan pemahaman yang saya miliki. Ada tiga poin ajaran Kristiani, tetapi bisa dipahami melalui ajaran Islam. Yaitu, mengenai kehadiran Tuhan, penyaliban Yesus, dan ajaran cinta kasih”, demikian kutipnya.

Ini juga terjadi pada tulisan Ulil Abshar-Abdalla. Ia bahkan ingin menciptakan model ta’âruf Qur’ani. Hanya saja, ia juga terjebak oleh spirit yang digulirkannya itu. Diantaranya, ia menganjurkan kawin campur antara seorang laki-laki Muslim dengan wanita non-Muslimah, Natal dan bid`ah. Akibatnya, kedua penulis terjebak dalam ‘sinkretisme teologis’.

Poin penting dari tulisan Mohammad Guntur Romli dan Ulil Abshar yang akan saya tanggapi adalah; (1) Kehadiran Tuhan, (2) Penyaliban Yesus, (3). Al-Qur’an bukan “Kitab Pembatal” dan (4) bid’ah Natal.

Pertama, menyangkut kehadiran Tuhan.

Penulis kira adalah hal yang keliru kalau Islam tidak dianggap detail dalam menggambarkan kehadiran Tuhan. Paham yang menyatakan bahwa Kristen lebih mementingkan kehadiran Tuhan seperti yang diungkapkan oleh Firthjof Schuon dalam bukunya ‘Filsafat Parenial’ sangat kurang tepat.

Kristen dan Islam memiliki same platform (kalimah sawâ’), bukan common platform (kalimah musytarakah) yang selama ini disalahpahmi oleh beberapa kaum pluralis. Karena inti ajaran (akidah) Kristen dan Islam pada dasarnya adalah monoteisme (Tauhid), bukan kehadiran Tuhan. Hal ini dapat kita temukan baik dalam Perjanjilan Lama (Old Testament) maupun Perjanjian Baru (New Testament).

Sebagai contoh dapat dilihat dalam Perjanjian Lama; (1) Tuhan itu Allah, tidak ada yang lain (Ulangan 4: 35); (2) Akulah yang pertama dan yang terakhir, tidak ada tuhan selain Aku (Yesaya 44: 6); (3) Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Tuhan Yang Esa di dalam Taurat (Keluaran 8: 10); (4) Allah melarang membuat patung-patung atau berhala-berhala untuk disembah (Lawi 19: 4) dan (5) Nehemia dalam munajatnya berkata: “Engkaulah Tuhan yang Maha Esa!” (Nehemia 9: 6).

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, misalnya; (1) Lalu guru agama itu berkata kepada Yesus, “Tepat sekali, Bapak Guru! Memang benar apa yang Bapak katakan: Tuhanlah Allah yang esa, dan tidak ada lagi Allah yang lain (Markus 12: 32) [Yasir Anwar, Alâm al-Masîh 2004: 17]; (2) Allah tidak bisa dilihat (Yohanes 5: 37); (3) Iblis meminta Yesus untuk menyembahnya, kemudian –saat itu—Yesus menyuruhnya pergi, karena sudah tertulis bahwa hanya Allah saja yang pantas untuk disembah (Matius 4: 10); (4) Yesus menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata; Inilah hidup yang kekal, supaya mereka mengenal-Mu, Tuhan yang sesungguhnya dan Yesus yang Engkau utus (Yohanes 17: 3); (5) Di dalam surat Paulus kepada penduduk Roma; Karena Allah itu satu (Roma 3: 30) dan lainnya (Dr. Muhammad Ahmad al-Hâjj, al-Nashrâniyah min al-Tawhîd ilâ al-Tatslîts, 2002: 69-74).

Di samping itu, pendapat yang dikemukakan oleh Firthjof Schuon di atas kurang representatif, karena dia seorang filosof, bukan seorang teolog. Tentu saja seorang teolog lebih mumpuni di dalam memahami ajaran agama tinimbang seorang filosof, meskipun tidak menutup kemungkinan seorang filosof juga merangkap seorang teolog.

Dalam hal ini Leibniz (1646-1716) lebih mumpuni tinimbang Schuon. Sehingga Leibniz lebih dikenal dengan terma Theodicy-nya. Maka, kesamaan platform (same platform) Kristen dan Islam, terletak pada monoteisme, bukan kehadiran Tuhan.

Kedua, Penyaliban Yesus.

Adalah hal yang sangat fatal ketika menyatakan bahwa kematian Yesus di tiang salib merupakan hal yang sama dengan jihad dalam Islam. Penulis kira itu adalah al-qiyâs ma`a al-fâriq bâthil. Sama halnya dengan pernyataan Said Aqil Siradj ketika menyatakan bahwa makna nuzul dalam Islam sama dengan nuzul dalam Kristen. Aqil yang mengatakan, nuzul dalam Islam dalam bentuk Al-Qur’an, sedangkan nuzul dalam Kristen dalam bentuk Yesus. Tentu saja hal ini tidak bisa diterima bahkan salah total. Mengapa tidak melakukan qiyas antara Al-Qur’an dengan Injil. Dan itu lebih rasional. Penulis kira Injil juga nuzul dari Allah. Atau apakah ada umat Kristen yang menyatakan bahwa Injil tidak nuzul dari Allah?

Dalam Islam ada ajaran kurban (al-‘udlhiyah) pada hari raya `Idul Adlha, bukan jihad seperti yang ditulis Guntur. Selain itu, jihad bukan sampai darah penghabisan. Dalam Islam dijelaskan bahwa jihad itu sampai target jihad tercapai. Kalau sudah tercapai tidak perlu sampai darah penghabisan, itu namanya mati konyol. Dalam Al-Qur’an hal itu sudah tampak gamblang diterangkan oleh Allah swt (Qs. 2: 19-193), belum lagi dalam Hadits Nabi SAW.

Ketika ada yang menyatakan bahwa umat Islam tidak bisa menolak ajaran Penyaliban Yesus, dengan alasan dalam Islam ada syafa’at karena dipandang sama-sama berbentuk pengampunan. Jelas wacana seperti ini bisa dikatakan “jauh panggang daripada api”. Kita tidak boleh hanya mementingkan hal yang sifatnya sekunder, semacam kerukunan beragama, namun terpaksa mengorbankan garis akidah yang jelas. Sumber ajaran (akidah) adalah kitab suci. Karenanya, penyaliban harus dilihat dari kitab suci (Bibel) dan Al-Qur’an. Jadi tidak bisa hanya lewat rasio (akal) yang memiliki kemampuan yang terbatas (limited ability).

F. Kenyon dalam bukunya The Bible and The Ancient Manuscripts pada halaman 48 memuat kisah ‘Penyaliban Yesus’ yang tercatat dalah Injil Markus. Kenyon menyatakan bahwa dalam pandangan prioritas kronologisnya, Markus harus diletakkan pada sumber pertama episode ini.

Tetapi riset modern membuktikan, bahwa dua belas ayat (mulai ayat 9 sampai 20) yang terdapat di bagian terakhir Injil itu adalah palsu dan tidak ditemukan di manuskrip-manuskrip tertua. (baca Dr. Hamid Qadri, Dimension of Christianity (Terj) Masyhur Abadi & Lis Amalia R; “Awan Gelap Dalam Keimanan Kristen”, 2004: 61).

Kiranya sumber doktrin yang sudah mengalami distorsi tidak bisa dijadikan sebagai landasan ide dan pemikiran. Perlu ditambahkan bahwa dalam Injil sendiri masih terdapat kesimpangsiuran dalam kisah Penyaliban Yesus.

Sebagaian mengatakan penyaliban adalah hal yang dilarang. Menurut syariat Yahudi menyebut, “Setiap yang disalib di atas kayu (tiang salib) terlaknat.” Dalam teks dari kitab Ulangan juga menyebutkan, “Apabila seseorang telah dihukum mati karena suatu kejahatan, dan mayatnya digantung pada tiang, mayat itu tidak boleh dibiarkan di situ sepanjang malam, tetapi harus dikubur pada hari itu juga. Mayat yang tergantung pada tiang mendatangkan kutuk Allah… (Kitab Ulangan 21: 22-23)

Masih banyak kesimpangsiuran yang lain. Di setiap bagian dalam Injil, Al-Masih tidak mengatakan, “Niscaya aku akan disalib.” Namun ia senantiasa berbicara dengan menggunakan kata ganti orang ketiga (dhamîr al-ghâ’ib). “Niscaya anak manusia akan disalib, akan dibunuh”.

Nyata sekali bahwa penggunakan kata ganti ‘orang ketiga’ di sini bukan secara serampangan (sembarangan), namun merupakan tujuan yang sudah pasti dalam membicarakan ‘seseorang yang tidak hadir namun ada, atau yang ada orangnya namun tidak hadir (di saat itu)’. Maka sosok yang sebenarnya (Al-Masih) dalam keadaan tidak ada (al-ghâ’ib) dan orang yang disalib (al-mashlûb) adalah orang yang mirip dengan Al-Masih (syabîh al-masîh) dalam kedaan hadir.

Karenanya, tidak mungkin kata ganti yang lain menjelaskan perkara ini, kecuali kata ganti orang ketiga (dhamîr al-ghâ’ib). Dan satu-satunya perkataan Al-Masih yang menggunakan orang pertama adalah, “Wa hîna u’allaqu marfû’an min al-arhdi, adzdibu al-jamî’”. (Kalau aku sudah ditinggikan di atas atas bumi, aku akan menarik semua orang kepadaku (Yohanes 12: 32).

Dalam hal ini, beliau tidak ada sedikitpun menunjukkan tentang salib, sebagaimana terjemahan dalam bahasa Arab ‘u’allaqu tidak benar. Karena dalam bahasa Inggris ‘lifted up’, bermakna ‘diangkat’, bukan digantungkan (‘u’allaqu). Maka tidak ada perselisihan diantara kita bahwa Al-Masih telah diangkat ke langit dalam keadaan hidup atau mati.

Adalah sesuatu yang bijak jika kita mempelajari sebuah doktrin agama langsung kepada sumber aslinya (primary refence). Penebusan dosa dalam Islam tidak lewat syafaat, melainkah lewat istighfar (memohon ampun) kepada Allah. Bukankah Nabi saw mengajarkan umatnya untuk meperbanyak istighfar? Karena syafaat bukan untuk semua manusia, melainkan bagi mereka yang berdosa. Sedangkan dalam Kristen, orang seluruhnya sudah diampuni dosanya cukup dengan mengakui bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Menurut Marthin Luther, tidak rasional dan salah fatal menyamakan penebusan dosa dengan Penyaliban Yesus Kristen yang sampai hari ini masih mengandung kontroversial di kalangan Kristen sendiri.

Maka cukup beralasan jika Al-Qur’an menyatakan wamâ qatalûhû wamâ shalabûhu walâkin syubbiha lahum.

Pernyataan kaul liberal yang mengatakan bila Yesus merupakan “kalimat” dan “ruh Allah” adalah kesalahan fatal yang perlu diluruskan. Al-Qura’n tidak pernah menjelaskan hanya dengan “ruh” dan “kalimat Allah”. Allah senantiasa menggandengkan kata “ruh” dengan kata “minhu”. Begitu juga dengan “kalimat”, selalu disandingkan dengan kata ganti (dhamîr) hu, sehingga menjadi kalimatuhû. Hal ini dapat dibaca dalam QS. 4: 171, “Innama al-Masîhu `Isa bnu Maryam Rasûlullâhi wa kalimatuhû alqâhâ ilâ Maryam wa Rûhun minhu (Sesungguhnya Al Masih `Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya). Jelas berbeda antara “ruh Allah” dengan “ruh dari Allah”.

Ketiga: Al-Qur’an bukan “Kitab Pembatal”?

Ulil Abshar Abdalla juga sempat menyinggung bahwa Al-Qur’an bukanlah “Kitab Pembatal”. Benarkah demikian? Dalam sebuah agama, klaim kebenaran (truth claim) merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Hanya saja, salah satu tindakan yang salah adalah klaim buta (blind claim). Itulah yang tidak dapat diterima.

Klaim-klaim buta yang tidak berdasar merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan sama sekali. Pernyataan Ulil bahwa Al-Qur’an bukan ‘Kitab Pembatal’ harus dilihat kembali dengan kritis. Yesus hadir (diutus) ke dunia bukan membawa atau menciptakan hukum baru. Ia hanya melengkapi (menggenapi) hukum Taurat yang dibawa oleh Musa (Matius 5: 17-18). Maka, Injil pada intinya tidak bisa dianggap sebagai penghapus Taurat, meskipun datangnya belakangan. Ia hanya bisa disebut sebagai ‘mushaddiq’ (pembenar). Lain halnya dengan Al-Qur’an, meskipun Al-Qur’an turun bukan sebagai ‘Kitab Pembatal” –namun ia merupakan penghapus beberapa hukum Taurat–, tapi ia (Al-Qur’an) turun sebagai pembenar (mushaddiq) sekaligus muhaimin `alaihi (batu ujian). Hal-hal inilah yang sering luput dari pengamatan kaum liberal seperti Guntur dan Ulil.

Al-Qur’an merupakan filter akidah dan ayat-ayat yang ada dalam kitab yang turun lebih dulu (Taurat dan Injil). Dengan demikian, Al-Qur’an pada intinya merupakan kitab ‘pembatal’, meskipun bukan pembatal seratus persen. Sebut saja cara bertobat. Umat zaman dahulu kalau bertobat harus bunuh diri (Qs. 2: 54), dalam Islam tentu tidak seperti itu, cukup dengan taubat; tidak perlu sampai membunuh diri. Dan yang tidak dihapus itu adalah doktrin monoteisme (Tauhid). Itulah yang disebut dengan same platform (kalimah sawâ’). Meskipun tampaknya hanya Islam (saat ini) yang berpegang teguh pada kalimah sawâ’ ini.

Keempat: bid`ah Natal.

Ada hal penting yang harus ketahui dalam masalah bid`ah. Pertama, bid`ah itu terbagi dua, pertama bid`ah dalam kebiasaan (adat) dan kedua, bid`ah dalam agama (al-dîn). Bid`ah dalam bentuk pertama dibolehkan, karena asal (dasar) dari segala sesuatu itu adalah boleh (al-ibâhah). Sedangkan bid`ah dalam agama adalah haram, karena pada dasarnya adalah al-tawqîf (berdasarkan penjelasan Nabi saw berdasarkan wahyu dari Allah swt).

Kata Nabi, “Man ahdatsa fi amrina ma laisa minhu fahuwa raddun,” barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara (agama) ini maka hal itu akan ditolak.

Contohnya adalah menghadiri perayaan Natal. Karena perayaan Natal bersama juga merupakan bid`ah yang dilarang oleh agama. Karena Natal merupakan salah satu hari besar dalam agama Kristen, jelas menghadirinya tidak boleh dan dilarang keras oleh agama.

Ibnul Qayyim al Jauziyah di dalam bukunya As-Syarhus Syuruth Al Umariyah, mengutip sebuah sabda Nabi saw, “Laa tadkhuluu `alaa ha’ulaai al-mal`uuniin illaa antakuunuu baakiina. Fainlam takuunuu bakiina falaa tadkhuluu `alaihim, an yushibakum mitslu maa ashabahum (Janganlah kalian memasuki rumah-rumah ibadah kaum yang dilaknat oleh Allah kecuali dengan menangis. Jika kalian tidak menangis, maka jangan memasukinnya, karena nanti kamu akan tertimpa (azab) seperti yang diterima mereka).”

Dalam kitabnya, “Iqtidlaa ‘ash Shirathil Mustaqim Mukhaalifata Ashhaabil Jahim” , Ibnu Taimiyah menguraikan panjang lebar sikap yang harus dilakukan oleh seorang Muslim dalam menyikapi hari-hari besar agama lain. Diceritakan oleh Ibnu Taimiyah, bahwa Umar bin Khatthab ra. pernah menyatakan, “Ijtanibuu a`daa’allaahi fii `idihim (Jauhilah musuh-musuh Allah pada hari-hari besar mereka).

Kaum non-muslim ketika itu dilarang oleh Umar untuk merayakan hari besar mereka secara mencolok sehingga menarik perhatian masyarakat. Menurut Ibnu Taimiyah, keputusan Umar itu merupakan ‘ijma` sahabat dan disepakai jumhur ulama. Merujuk kepada ketentuan itu, tentunya dapat dipahami bahwa menghadiri peringatan Natal bersama –apalagi menyiarkan besar-besaran di tengah masayarakat Muslim—adalah tindakan tercela. Umar menyatakan, “Janganlah kalian memasuki tempat-tempat ibadah kaum musyrik pada hari besar agama mereka. Sebab, sesungguhnya kemurkaan Allah pada hari itu sedang turun atas mereka”.

Secara realita, di Indonesia tidak pernah ada pihak yang dirugikan seandainya agama-agama lain (Islam, Hindu dan Budha) tidak menghadiri ‘Perayaan Natal Bersama’. Apakah dengan tidak hadirnya umat Islam akan dianggap Islam tidak toleran? Atau Perayaan Natal tersebut kurang khidmat dan tidak khusyuk? Sehingga dapat mengurangi makna Natal itu sendiri. Karena umat Islam pun tidak pernah ribut ketika melaksanakan Idul Fithri dan Idul Adlha meski umat lain tak menghadiri.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir, Fakultas Ushuluddin-Jurusan Tafsir


Kristus Tidak Mati untuk “Dosa Manusia”

April 27, 2008

Minggu, 25 Desember 2005 var sburl2821 = window.location.href; var sbtitle2821 = document.title;var sbtitle2821=encodeURIComponent(“Kristus Tidak Mati Untuk Dosa Manusia”); var sburl2821=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2613″); sburl2821=sburl2821.replace(/amp;/g, “”);sburl2821=encodeURIComponent(sburl2821);Berdasarkan kajian ayat yang ada dalam kitab Bible, Yesus bukan mati di tiang Salib. Ada “pemerkosaan” teks, seolah-olah Yesus mati untuk menebus dosa manusi  (Bagian terakhir tulisan)

Ahad, 25 Desember 2005

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *

“Siapa yang percaya kepada perkataan Kami? Kepada siapa telah dinyatakan kuasa Tuhan? Tuhan menghendaki hamba-Nya itu seperti tunas yang tumbuh di tanah yang gersang. Tidak ada yang indah padanya untuk kita pandang; tak ada yang menarik untuk kita inginkan.

Kita menghina dan menjauhi dia, orang yang penuh sengsara dan biasa menanggung kesakitan. Tak seorangpun mau memandang dia, dan kita pun tidak mengindahkan dia. Sebenarnya, penyakit kitalah yang dideritanya, padahal kita menyangka penderitaan itu hukuman Allah baginya. Tetapi ia dilukai karena dosa-dosa kita, dan didera karena kejahatan kita. Ia dihukum supaya kita diselamatkan, karena bilur-bilurnya kita diselamatkan. Kita semua tersesat seperti domba, masing-masing mencari jalannya sendiri.

Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita semua. Ia diperlakukan dengan kejam, tapi menangguhnya dengan sabar. Ia tidak membuka mulutnya seperti domba yang dibawa ke pembantaian atau induk domba yang dicukur bulunya. Ia ditahan dan diadili, lalu digiring dan dihukum mati. Tak ada yang peduli akan nasibnya; ia mati karena dosa bangsa kita. Ia dikuburkan bersama orang jahat; makamnya di tengah-tengah orang kaya, walaupun ia tak pernah melakukan kejahatan, dan tak pernah menipu. Tuhan menghendaki ia menderita, dan menyerahkan diri sebagai kurban penebus dosa. Maka ia akan berumur panjang dan melihat keturunannya melalui ia kehendak Tuhan akan terlaksana. Karena itu Tuhan berkata, “ Sesudah menderita sengsara, ia akan bahagia dan puas. Hamba-Ku itu, yang menyenangkan hati-Ku, telah menanggung hukuman orang banyak; demi dia Aku akan mengampuni mereka. Dengan rela ia menyerahkan hidupnya dan masuk bilangan orang-orang jahat. Ia memikul dosa orang banyak dan berdoa suapaya mereka
diampuni. Maka Kuberi dia orang banyak sebagai hadiah, dan ia mendapat bagian bersama orang-orang benar.”
(Yesaya 53: 1-12)

Dua belas dari Kitab Yehezkiel di atas diklaim oleh umat Kristen sebagai dalil bahwa Kristus benar-benar disalib. Ia seolah-olah seperti seekor domba yang dibawa ke ‘penjagalan’: tidak berkutik dan tidak bereaksi sama sekali. Ia pasrah untuk disembelih oleh sang tukang jagal.

Pada tulisan pertama, penulis telah memberikan bukti-bukti dari Bibel, yang menyatakan bahwa Kristus tidak disalib. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan interpretasi kritis atas ayat-ayat dari Kitab Yehezkiel di atas.

Pembacaan kritis terhadap ayat-ayat yang ada dalam Kitab Yehezkiel di atas, akan melahirkan beberapa pertanyaan yang harus terjawab. Benakah teks Kitab Yehezkiel tersebut berbicara tentang Kristus? Dan  apakah teks di atas berbicara tentang penyaliban? Juga  apakah ayat-ayat di atas merupakan nubuwat (ramalan) tentang masa datang, atau (malah) masa yang telah lalu?

Tiga pertanyaan pokok itu  akan kita jawab dalam tulisan ini. Hanya saja, penulis hanya
akan menjawab dua pertanyaan pertama dan kedua saja.
Pertanyaan ketiga, insya Allah akan diulas dalam tulisan tersendiri.

Pertama, bahasa metafora. Adalah kebiasan Kristus berbicara lewat majaz. Itu pula sebenarnya yang harus lebih dahulu dipahami oleh umat Kristen. Bahwa Bibel banyak menggunakan bahasa kiasan.

Maka, pembacaan secara letterlijk terhadap teks-teks Bibel hanya akan melahirkan konklusi dangkal dan tidak tepat. Sebagai contoh adalah dalam Injil Matius, “Mengapa sampai kalian tidak mengerti bahwa Aku bukannya berbicara dengan kalian mengenai roti? Berhati-hatilah terhadap
ragi orang-orang Farisi dan Saduki. Ketika itu para murid mengerti bahwa Yesus menyuruh mereka berhati-hati, bukan terhadap ragi yang dipakai untuk membuat roti, tetapi terhadap pengajaran orang-orang Farisi dan Saduki” (Matius 16: 11-12).

Ayat sebelumnya berbunyi demikian, “Waktu pengikut-pengikut Yesus sampai di seberang danau, baru ketahuan oleh mereka bahwa mereka lupa membawa roti. Yesus berkata kepada mereka, “Berhati-hatilah terhadap ragi orang-orang Farisi dan Saduki.” Mendengar kata-kata Yesus itu,
pengikut-pengikutnya mulai berkata satu sama lain, “Ia berkata begitu karena kita tidak membawa roti.” Yesus tahu apa yang mereka bicarakan. Lalau ia berkata, “Mengapa kalian persoalkan tentang tidak punya roti? Kalian kurang percaya! Masih belum mengertikah kalian? Apakah kalian tidak ingat akan lima roti yang aku belah-belah untuk lima ribu orang? Berapa bakul kelebihan roti yang kalian kumpulkan? Dan bagaimana pula dengan tujuh roti untuk empat ribu orang itu?
(Matius 16: 5-10).

Sekarang bagaimana dengan ayat-ayat dalam Kitab Yehezkiel di atas? Sebuah analis kritis dari Yasir Anwar dalam bukunya Âlâm al-Masîh (2004) sangat menarik untuk disebutkan di sini.

Kedua, seputar penyaliban. Sebelum berbicara seputar penyaliban, ada bebera poin yang harus diungkap. Ayat tersebut berbicara tentang sifat fisik seseorang: tidak ada yang indah untuk dipandang, tak ada yang menarik untuk diinginkan, karena orangnya hina dan sengsara.

Sekarang mari kita terapkan sifat itu kepada Kristus! Ternyata, sifat-sifat tersebut tidak sesuai satupun untuk Kristus. Karena menurut umat Kristen, Yesus itu ganteng (tampan).

Tapi kebanyakan gambaran Yesus, kutip Yasir Anwar, bisa Anda lihat  di film-film, batu lukis, dinding-dinding gereja dan kubah-kubahnya. Yesus juga bukan orang yang hina dan sengsara. Ia adalah orang mulia. Bukankah ia disebut sebagai “guru”, bahkan tuan dan tuhan? Lalu, jika disebutkan sifat hina dan sengsaraitu sifat siapa? Sifat nabi Yeremiakah? Bisa jadi. Atau kaisar
Faris, Koruskan? Mungkin saja.

Coba terapkan kepada nabi Yeremia! “Aku diolok setiap orang, dihina dari pagi sampai petang” (Yeremia 20: 7). “Tuhan, aku dihina dan diejek setiap waktu, karena menyampaikan pesan-Mu” (Yeremia 20: 8).

Juga soal karakteristik kejiawaan. Sebenarnya, penyakit kitalah yang dideritanya, padahal kita menyangka penderitaan itu hukuman Allah baginya. “Tetapi ia dilukai karena dosa-dosa kita…
Sifat-sifat inipun sesuai untuk nabi Yeremia. Ia berkata;…hatiku hancur dan aku gemetar Tuhan, dan tulang-tulang terasa gemetaran” (Yeremia 23: 9)

“Mengapa aku harus dilahirkan? Kalau hanya untuk menderita kesukaran. Dan supaya hidupku berlalu semata-mata dalam malu”(Yeremia 20: 18). Ini adalah ayat yang menyatakan karakteristik kejiwaan sosok yang ada dalam Kitab Yehezkiel di atas. Sesuaikah bagi Yesus? Kehidupan Yesus berlalu bukan untuk menanggung malu.

Yang terakhis  reaksinya. Apa reaksinya? Ia diperlakukan dengan kejam, tapi menanggungnya dengan sabar. Ia tidak membuka mulutnya seperti domba yang dibawa ke pembantaian…

Apakah teks di atas berbicara dan menunjukkan tentang peristiwa penyaliban? Ternyata tidak, bahkan jauh. Karena teks tersebut berbicara tentang “kelemahan” dan ketidakberdayaan diri dalam menghadapi kejahatan.

Jadi tidak ada kaitannya dengan Yesus. Lalu bagaimana dengan nabi Yeremia? Ternyata lebih tepat teks tersebut untuk disandang olehnya. ” “Namun aku seperti domba yang tanpa curiga dibawa ke tempat pembantaian (penjagalan)…” (Yeremia 11: 19).

Sekali lagi kita bertanya lagi kepada umat Kristen: Apakah nabi Yeremia dibunuh, disembelih? Apakah dia disalib?  sebagaimana ayat di Mazmur ini, “…kami terus terancam maut, dan diperlakukan seperti domba sembelihan” (Mazmur 44: 23); “ Orang-orang dungu dan bodoh sama-sama binasa…” (Mazmur 49: 11); “ Seperti domba mereka ditentukan untuk mati” (Mazmur 49: 15).

Penulis berasumsi dan sangat yakin, bahwa tidak ada seorangpun dari umat Kristen yang berani menyatakan bahwa Yesus “bodoh” dan “dunggu”. Lagi-lagi, ayat-ayat alam Perjanjian Lama tersebut tidak bisa dipahami secara harfiyyah, karena hasilnya akan salah.

Sejatinya, ayat-ayat tersbut tentang “minim” siasat dan “lemah diri” dalam menghadapi kejahatan, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian terdahulu.

Kemudian kata “dibawa”, merupakan sifat dari “domba”. Domba tersebut “dibawa ke pembantaian (penjagalan)”. Padahal, umat Kristen meyakini bahwa Yesus tidak pernah dibawa “ke penjagalan”, berati itu sungguh-sungguh sebuah “paralogisme”.

Lalu sifat orang itu adalah, “Seperti domba yang diam di depan hukumannya, ia tidak membuka mulutnya”. Sifat ini juga tidak sesuai dengan Yesus. Ia lebih tepat dialamatkan kepada nabi Yeremia. “Mengenai diriku, memang ada dalam kuasa kalian. Lakukan apa saja menurut kemauan kalian” (Yeremia 26: 14).

Karena dalam Injil, sifat Yesus adalah mengeluh, marah, menangis, menyesal dan murka. “…apakah Aku ini penjahat, sampai kalian datang membawa pedang dan pentungan untuk menangkap Aku”? (Matius 26: 55).

Bahkan, menurut keyakinan Kristen –ayat ini telah kita batalkan pada tulisan pertama—ketika di tiang salib berseru, ““Eloi, Eloi lama sabakhtani?” yang berarti, “Ya Tuhan -Ku, ya
Tuhan-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15: 34).

Mari kita kembali kepada teks! ” Dalam kesesakan ia ditangkap. Dalam bangsanganya, siapa yang mengira bahwa ia ditebang dari tanah kehidupan dan dimusnahkan demi masyarakatku”. Teks ini tidak sesuai bagi Yesus. Ia lebih tepat untuk nabi Yeremia. ““Segera setelah Yeremia selesai mengumumkan pesan Tuhan seperti yang diperintahkan-Nya, mereka (pemimpin kepala, para nabi
dan seluruh rakyat) menangkapnya sambil berkata: “Kau harus mati!” (Yeremia 26: 8).

“Segera setelah Yeremia selesai mengumumkan pesan Tuhan seperti yang diperintahkan-Nya, mereka (pemimpin kepala, para nabi dan seluruh rakyat) menangkapnya sambil berkata: “Kau harus mati!”(Yeremia 26: 8)

“Aku tidak tahu bahwa akulah yang menjadi sasaran rencana jahat mereka. Mereka berkata, “Mari kita tebang pohon ini sementara masih dapat menghasilkan buah; kita musnahkan dia supaya namanya dilupakan  orang” (Yeremia 11: 19)

Ketika Yeremia sampai di Pintu Gerbang Benyamin, komandan tentara yang bertugas di situ menahannya dan mengangkapnya seraya berata, “Engkau mau lari ke pihak orang Kaldea! (Perwiran itu bernama Yeria anak Selemya cucu Hananya). Yeremia menjawab, “Tidak benar! Aku tidak bermaksud lari ke pihak musuh.” Namun Yeria tidak mau mendengarkan perkataan Yeremia, malah ia menangkapnya dan membawa Yeremia ke hadapan pemerintah. Pemerintah itu marah kepadanya, mereka memukulinya dan mengurungnya di rumah Yonatan, sekretaris negara yang sudah dijadikan penjara oleh mereka” (Yeremia 37: 13-15).

Dalam  teks, ia dikuburkan bersama orang jahat; makamnya di tengah-tengah orang kaya, walaupun ia tak pernah melakukan kejahatan, dan tak pernah menipu. Sesuaikah ayat ini bagi Yesus? Sekali lagi, tidak!

Teks ini pada hakikatnya tidak sesuai bagi Yeremia juga bagi Kristus, karena Kristus –menurut pengakuan mereka—diletakkan dalam kuburnya sendiri. Maka, di hadapan mereka tidak ada cara lain kecuali melakukan takwil (interpretasi) atas kata “kuburan” kepada “salib”.

Bersamaan dengan itu, Kristus tidak disalib bersama-sama dengan orang jahat, tidak pula dengan
orang kaya, tetapi bersama dua orang pencuri; satu orang diantara mereka mengejeknya dan seorang lagi percaya kepadanya (menurut riwayat Injil Lukas).

Lalu ia (penjahat yang percaya pada Yesus) berkata, “Yesus, ingatlah saya, kalau Engkau datang sebagai Raja!” Lalu Yesus berkata: “Percayalah, hari ini engkau akan bersama Aku di Firdaus (Lukas 23: 42-43)

Tidak ada orang kaya pada saat kematian Yesus. Jika mereka tidak memiliki jalan keluar dari penakwilan, maka kitapun akan menakwilkan teks tersebut kepada Yeremia.

Kata kubur dan mati digunakan dalam bentuk yang sebenarnya (denotasi) juga dalam bentuk metaforis. Jika digunakan dalam bentuk denotasi, maka teks tersebut dari awal hingga akhirnya tidak sesuai pada seorang manusiapun. Karena di akhir teks akan tampak jelas bahwa pemilik teks tersebut telah menikah, melahirkan dan memerangi.

Artinya, ia belum mati secara benar-benar, namun hanya dalam bentuk metaforis (majaz). Begitu juga kata kubur dipakai dalam bentuk majaz untuk menjelaskan rasa “putus asa”, “frustasi”
dan ketidakberuntungan (sial).

Bisa jadi artinya adalah penjara atau sumur yang dalam (Arab; al-jubb) yang diletakkan di dalamnya Yeremia (sekali ia dimasukkan ke dalam penjara, kemudian ia juga dimasukkan ke dalam sumur sekali). Dan sudah dapat dimaklumi bahwa isi penjara adalah orang-orang jahat, pendosa, kriminal, orang kaya dan orang miskin.

Mereka lalu mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam sumur milik Malkia putra raja dengan menggunakan tali. Di dalam sumur itu tidak ada air, yang ada hanya lumpur, dan Yeremia dimasukkan ke dalam lumpur itu (Yeremia 38: 6)

Lalu raja memerintahkan Ebed-Melekh (seorang Ethiopia/Sudan), “Bawalah tiga orang dan keluarkanlah Yeremia dari sumur itu sebelum ia mati (Yeremia 38: 10).

Penulis kira, itulah interpretasi yang benar. Kalau Kitab Yehezkiel ini dipaksakan agar sesuai untuk Yesus Kristes, namanya “pemerkosaan” teks. Karena pasti hasilnya akan “melenceng”. Dari analisa-analisa yang dipaparkan di atas, jelas sudah bahwa Kristus benar-benar tidak disalib. Ia tidak mati untuk ‘menanggung dosa seluruh bangsa’, apalagi seluruh umat
manusia. []. (Cairo, 20 Desember 2005/hidayatullah.com)

*) Penulis adalah mahasiswa di Universitas Al-Azhar-Cairo, Mesir, Fakultas Ushuluddin-jurusan
Tafsir. Penulis juga pemred Jurnal OASE, ICMI-Orsat Mesir dan salah seorang peminat kristologi. Tulisan ini dimuat di www.hidayatullah.com)


Al-Masih Benar-Benar “Tidak Disalib”

April 27, 2008

var sburl5887 = window.location.href; var sbtitle5887 = document.title;var sbtitle5887=encodeURIComponent(“Al-Masîh Benar-Benar Tidak Disalib”); var sburl5887=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2591″); sburl5887=sburl5887.replace(/amp;/g, “”);sburl5887=encodeURIComponent(sburl5887); Selasa, 20 Desember 2005 Yesus Mati di tiang Salib? Dari berbagai ayat di Bibel, Yesus benar-benar tidak disalib. Karena jika dia disalib, berarti beberapa ayat dalam injil harus dicopot (Pertama dari dua tulisan)

Selasa, 20 Desember 2005

Oleh:  Qosim Nursheha Dzulhadi *


Dalam sebuah makalah yang berjudul ‘SALIB KRISTUS DALAM PERSPEKTIF PENULIS ARAB-MUSLIM KONTEMPORER’ Bambang Noorsena menyatakan bahwa Salib Kristus dan Thariq al-Alam (Jalan  Sengsara)-Nya adalah salah satu “batu sandungan” dalam dialog teologis Kristen-Islam hingga sekarang. Salah satu alasan penolakan Islam atas historisitas penyaliban Yesus, didasarkan atas sebuah ayat dalam al-Qur’an;  Wa maaqataluhu wa maa shalabuhu wa lakin syubiha lahum. (Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula mereka menyalibkannya, melainkan yang disamarkan bagi mereka” (Q.s. An-Nisa’/4:157).

Makalah yang disampaikan  dalam “Pengajian Injil” yang diselenggarakan Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) Surabaya, di Gedung Keuskupan, Jl.W.R.Supratman No.4, Surabaya, 2 Juli 2004 itu penting untuk dikritisi. Meski sudah lewat, makalah yang dimuat di www.iscs.or.id sangat mendasar bagi “akidah”.

Penyaliban Yesus

(Al-Masih) dan ‘penderitaannya’ (the passion of Christ) dalam akidah Islam, bukan saja tidak mendapat tempat, namun juga ditolak oleh Bibel. Apa yang dikatakan oleh Bambang Noorsena bahwa salah satu alasan penolakan Islam adalah Qs. An-Nisa’ [4]: 157 sama sekali tidak tepat. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memberikan beberapa catatan penting.

Pertama, kisah penyaliban Kristus dan penderitaannya (Âlâm al-Masîh) yang diklaim oleh umat Kristen sebagai bagian dogma yang harus diterima, meskipun irasional dan sama sekali tidak berdasar. Bangunan dogma ini laksana ‘sarang laba-laba’: tidak kokoh dan sudah runtuh.

Yang meruntuhkan dogma yang ‘membingungankan’ ini bukan hanya Al-Qur’an, tapi juga Bibel. Namun sayang, karena dogma –percaya tidak percaya, masuk akal atau tidak—wajib diterima. Benar, bahwa Qs. An-Nisa [4]: 157 menolak penyaliban Kristus. Penolakan Al-Qur’an bukan tanpa dasar dan tanpa alasan yang kuat.

Kisah penyaliban Kristus merupakan ‘sandiwara’ yang dibuat oleh Yahudi. Kemudian sandiwara ini mendapat sambutan yang sangat besar sekali dari umat Kristen. Umat Yahudi yang paling banyak mencerca ibunda Mariam (Maria) –wanita suci dan terhormat—dan menuduhnya berbuat “serong” lebih dicintai oleh umat Kristen, meskipun umat Islam membela habis-habisan.

Pada akhirnya, penyaliban ini menjadi dogma yang taken for granted, tanpa proses olah nalar yang cerdas.

Umat Yahudi adalah umat yang memiliki budaya “ingkar janji”, mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, mengaku hatinya terutup.

Mereka juga mencerca Mariam, ibu Kristus. Dan yang paling besar, mereka mengaku telah ‘membunuh’ –menyalib—Kristus utusan Allah (Qs. An-Nisa’ [4]: 156-157). Padahal, mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, hanya orang yang diserupakan –bukan disamarkan seperti yang diklaim Bambang Noorsena.

Dan ternyata, orang-orang Yahudi sendiri ragu terhadap yang mereka salib itu. Mereka tidak memiliki pengetahuan yang valid, akhirnya mereka hanya mengikuti perkiraan (prasangka) saja (ittibâ` az-zhann).

Dan mereka memang benar-benar tidak yakin bahwa mereka telah membunuh Kristus (Qs. An-Nisa’ [4]: 157). Al-Qur’an menyatakan bahwa Kristus tidak hanya tidak disalib, bahkan diangkat oleh Allah (Qs. An-Nisa [4]: 158).

Kalau seandainya benar Kristus disalib, demi menebus dosa bapaknya Adam. Berarti Allah tidak adil. Kalau Tuhan mengorbankan ‘Anak Tunggal-Nya’, berarti Tuhan tidak memiliki kasih sayang. Bukankah dalam agama Kristen Tuhan itu bersifat ‘adil’ dan ‘pengasih’.

Jika demikian, kisah penyaliban Kristus tertolak melalui dua sifat Tuhan yang kontradiktif ini. Adalah benar apa yang termaktub di dalam Kitab Yehezkiel 18: 2-4, “Mengapa peribahasa ini terus disebut-sebut di negeri Israel? ‘Orang tua makan buah anggur yang asam rasanya, tetapi anak-anaklah yang ngilu giginya.’ Demi Aku, Allah yang hidup, TUHAN Yang Mahatinggi, peribahasa ini tidak akan lagi diucapkan di Israel. Nyawa setiap orang adalah milik-Ku, baik nyawa orang tua maupun nyawa anaknya. Orang yang berdosa, dialah yang akan mati.”

Lebih tegas lagi dijelaskan, “Orang yang berbuat dosa, dialah yang akan mati. Anak tidak harus menanggung akibat dari kesalahan ayahnya; sebaliknya, ayah pun tidak harus menanggung akibat dari dosa-dosa anaknya. Orang yang baik akan mendapat ganjaran yang baik karena perbuatannya yang baik. Dan orang yang jahat akan menderita akibat dari kejahatannya.” (Yehezkiel 18: 20).

Dengan demikian, tidak ada alasan bahwa Kristus harus menebus dosa Adam. Rentang waktu yang
begitu lama – ribuan tahun—sejak Adam dan Hawa makan buah dari pohon kehidupan dan keabadian, menjadi tanya besar yang tidak terpecahkan.

Bukan hanya tidak masuk akal, juga menodai ke-Mahaagungan Allah SWT. Apakah Allah Yang Mahakuasa tidak mampu mengampuni dosa para hamba-Nya? Karena dia Mahakuasa. Lalu kenapa harus menunggu Kristus dilahirkan? Paralogisme yang menggelikan!

Kedua, benarkah Kristus disalib? Bambang Noorsena dalam makalahnya juga menyatakan, ” Secara gramatikal, Q.s. An-Nisa’ 157 memang tidak menyangkal secara gamblang historisitas penyaliban Yesus.

Ungkapan lakin syubiha lahum (melainkan yang disamarkan bagi mereka), menggunakan bentuk fi’il mabni lil-majhul yang tidak menunjuk secara jelas subyek, yaitu siapa yang menggantikan Yesus dalam penyaliban.

Nama Yudas  Iskariot sebagai pengganti Yesus baru muncul belakangan, dan dalam sejumlah tafsir kuno dikemukakan nama-nama lain (Simon Petrus, Simon dari Kirene, dan sebagainya).

Artinya, nama-nama inipun tidak muncul dalam teks al-Qur’an, melainkan dalam sejumlah kitab
Tafsir al-Qur’an.

Keliru besar jika Bambang Noorsena menyatakan bahwa kata kerja (fi`il) syubbiha lahum fi`il al-mabni li al-majhuul. Kemudian, dengan spontan menyimpulkan bahwa ayat tersebut tidak secara gamblang menolak historisitas penyaliban Kristus.

Ini sangat penting untuk dicermati. Pertama, dalam gramatikal Arab, tidak semua fi`il al-mabnî li al-majhuul tidak jelas pelakunya. Kesimpulan dini anti-klimaks ini merupakan akibat dari ilmu bahasa Arab yang matang dipaksakan. Yang menggantikan Kristus adalah Allah. Itu adalah logika.  Kesimpulan yang ‘sembrono’ dan ‘serampangan’ itu adalah akibat dari kutipan ayat yang tidak sempurna.

Jika saudara Bambang benar-benar mengutip ayat secara sempurna, dari ayat 156-158, maka kesimpulannya akan berbeda jauh. Syeikh Mutawalli Sya`rawi dalam bukunya Maryam wa Al-Masih menyatakan, bahwa kata ‘syubbiha lahum’ merupakan ‘satu bukti’ adanya “kecerobohan” dalam usaha pembunuhan itu. Maka, orang lain diserupakan dengan Kristus. Hal itu mengindikasikan bahwa masalah penyaliban (pembunuhan Kristus) tidak alami. Tidak ada kepastian dari orang-orang yang ingin membunuhnya.”

Penulis kira,  tidak ada bedanya kata syubbiha lahum dengan ayat yang  berbunyi zuyyina li an-nassi dalam Qs. Ali `Imran [3]:  14,”Zuyyina li an-naasi hubb asy-syahawaati min an-nisaa’i wa’l-baniin  a’l-qanaathiir’l-muqantharah min adz-dzahabi wa’l-fidhdhati wa’l-khili’l-musawwati wa’l-an`aami wa’l-harts….”

Apakah ayat ini juga harus dipertanyakan, “Siapa yang memberikan rasa cinta dalam diri manusia terhadap wanita, anak-anak, dst…? Apakah ayat ini juga akan disebut ‘tidak jelas’?

Jawabannya yang tepat penulis kira; kembali kepada penguasan bahasa Arab yang lebih sempurna. Bukan penguasaan yang tendesnsius. Kedua, tidak benar bahwa nama Yudas Iskariot baru muncul belakangan.

Kemudian, Bambang menyebutkan nama-nama Simon Petrus, Simon dari Kirena, dan sebagainya. Setelah itu beliau menyimpulkan, “Nama-nama inipun tidak muncul dalam teks al-Qur’an, melainkan dalam sejumlah tafsir al-Qur’an.

Benar bahwa, nama-nama Simon Petrus dan Simon dari Kirena, dan sebagainya tidak tercantum di dalam Al-Qur’an. Karena nama-nama itu tidak penting. Yang penting adalah, wa maa qataluuhu wa maa shalabuuhu, wa laakin syubbiha lahum. Itulah inti ayat Al-Qur’an dalam masalah ini. Karena aktor dalam penyaliban itu ada tiga: Yahudi, Kristus dan Yudas Iskariot. Inilah yang harus dicantumkan dalam Al-Qur’an. Sementara Simon Petrus dan Simon dari Kirena, dalam istilah bahasa Arab, laa yanfa` wa laa yadhurr.

Sejatinya, nama Yudas sudah hilang ketika –menurut keyakinan  Kristen—setelah penangkapan Kristus dan diserahkan kepada para pemuka agama dan tentara Romawi, ia menghilang. Ia tidak kedengaran lagi perannya dalam panggung peristiwa.

Ke mana dia? Ini akan dijawab pada poin ketiga di bawah ini.  Ketiga, Kristus benar-benar tidak disalib menurut kesaksian Bibel. Buktinya;  “Angkatlah seorang jahat untuk mengadili dia, biarlah ia didakwa oleh lawannya. Biarlah ia diadili dan dinyatakan bersalah, dan biarlah doanya dianggap dosa. Biarlah hidupnya lekas berakhir, dan jabatannya diambil oleh orang lain. Biarlah anak-anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda.

Biarlah anak-anaknya menjadi pengemis yang mengembara, dan diusir dari reruntuhan rumahnya. Biarlah segala miliknya disita oleh penagih hutang, dan hasil jerih payahnya dirampas orang. Jangan ada yang baik hati kepadanya, atau menyayangi anak-anak yang ditinggalkannya. Biarlah seluruh keturunannya dibinasakan, dan namanya dilupakan oleh angkatan yang kemudian. Biarlah kejahatan leluhurnya tetap diingat Tuhan, dan dosa ibunya tidak diampunkan.

Biarlah dosa mereka selalu diingat Tuhan, dan tak ada yang mengenang mereka di bumi. Sebab orang itu tak pernah ingat untuk menunjukkan kasih sayang. Ia menganiaya orang miskin dan sengsara, dan membunuh orang yang tak berdaya. Ia suka mengutuk; biarlah ia sendiri terkutuk!

Ia tidak suka memberi berkat, biarlah tak ada berkat untuk dia! Baginya mengutuk itu perbuatan
biasa, sama seperti mengenakan pakaiannya. Biarlah kutuk itu merembes seperti air ke badannya, dan seperti minyak ke tulang-tulangnya.

Biarlah kutuk itu menutupi dia seperti pakaian, dan selalu melingkari dia seperti ikat pinggang. Tuhan, jatuhkan hukuman itu atas penuduhku, atas orang yang bicara jahat tentang aku. Tetapi tolonglah aku sesuai dengan janji-Mu, ya Tuhan Allahku, selamatkanlah aku karena kebaikan dan kasih-Mu… (Mazmur 109: 6-21).

Apa yang muncul dari Mazmur di atas? Pertama, Yudas adalah orang yang akan dihakimi, bukan
Kristus. Kedua, ditetapkan atasnya dosa. Ketiga, ia pasti akan disalib. Anaknya akan menjadi yatim, dan istirinya menjadi janda. Keempat, dialah yang mengkhianati Kristus dan berusaha untuk menghindar darinya. Kelima, Allah benar-benar akan menyelamatkan Kristus. Khsusus poin ketiga, Kristus tidak punya anak, karena dia tidak menikah.

Berarti tepat, itu adalah Yudas. Kemudian, menurut syariat Yahudi, yang disalib adalah terlaknat (terkutuk) (Ulangan 21: 22-23).

Penulis kira, tidak ada satu orang Kristenpun yang menerima jika Kristus dilaknat (dikutuk); raja
penyelamat harus tetap hidup. Bagaimana mungkin Kristus mati disalib (Yohanes 12: 34); dalam Matius 16: 21 Kristus menyatakan bahwa ‘ia akan dibunuh’.

Namun ini kontradiksi dengan injil Markus dan Lukas, karena kedua injil itu menggunakan kata ganti orang ketiga, ‘Anak Manusia’, bukan Kristus (Markus 8: 31 dan Lukas 18: 31-33).

Dengan demikian, Markus dan Lukas sepakat menggunakan kata ‘Anak Manusia’. Para murid Kristus sendiri –ketika ia berbicara tentang ‘Anak Manusia’ yang akan mati disalib—tidak memahami kata-katanya (Lukas 18: 34 dan Yohanes 20: 9).

Tidak ada satu ayatpun dalam Bibel, ketika Yesus berbicara tentang penyaliban dengan menggunakan ‘Anak Allah’. Dengan demikian, umat Kristen tidak ada alasan untuk mengakui penyalibannya. Silahkan dicermati dalil yang satu ini, “Memang Anak Manusia akan mati (perhatikan dia tidak mengatakan dibunuh) seperti yang tertulis dalam Alkitab. Tetapi celakalah (artinya siksa dan sakit) orang itu yang melalui tanggannya diserahkan anak manusia. Lebih baik bagi dia kalau tidak pernah dilahirkan (Matius 26: 24). Apakah Kristus lebih baik untuk tidak dilahirkan ke dunia ini?

Inilah kata Yudas di atas kayu salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” yang berarti, “Ya Allahku, ya Allahku mengapakah Engkau meninggalkan aku? (Matius 27: 46). Karena jika yang disalib itu Kristus, maka ia harus; ridha dengan ketentuan Allah dan takdir-Nya (secara nâsût dan lâhût, secara kemanusiaan dan keilahian) . Selain itum ia seyogyanya bergembira, bukan malah gelisah, karena ia telah menebus dosa manusia, dan itu merupakan misinya.

Bagaimana mungkin misinya tersebut menyebabkan dia merasa gelisah, khususnya jika ia seorang nabi, atau tuhan atau anak tuhan sebagaimana yang diklaim oleh umat Kristen.

Perhatikanlah ayat Injil ini, ” Tinggal sesaat saja kalian tak akan melihat aku lagi, dan setelah itu
sesaat lagi kalian akan melihat aku (Yohanes 16: 16).

Bagaimana mungkin para murid Kristus tidak melihatnya, padahal ia berada di atas kayu salib. Karena ternyata, para murid juga tidak mampu memahami perkataan Kristus ketika berbicara tentang itu. ” Beberapa murid mulai bertanya satu sama lain: “Apa maksud dari perkataannya: “Tinggal sesaat saja, kalian tidak akan melihat aku lagi, dan setelah itu sesaat lagi kalian tidak akan melihat aku.”

Juga apa maksudnya: “Aku pergi kepada Bapa?” Mereka terus bertanya, “Apa artinya sesaat? Kita tidak mengerti ia bicara apa.” (Yohanes 16: 17-18). Itu adalah gaya bahasa Kristus, penuh metafora dan majaz. Itulah usaha Kristus untuk mem-filter iman mereka. Juga agar mereka tidak gusar, tenang: karena Kristus tidak akan mati di tiang salib.

Kristus hanya pergi sebentar, meninggalkan para muridnya. Setelah itu, ia kembali menemui mereka. Kalian tidak akan aku tinggalkan sendirian sebagai yatim piatu.

Tinggal sebentar saja dunia tak akan melihat aku lagi. Tetapi kalian akan melihat aku. Dan karena aku hidup, kalian pun akan hidup. (Yohanes 14: 18-19).

Perhatikan, Kristus tidak menyatakan ‘akan hidup’, tapi ‘hidup’. Kenapa? Karena dia memang tidak mati. Kalau memang Kristus akan hidup (bangkit) lagi, maka tidak ada gunanya Maria Magdalena membawa ramu-ramuan (Markus 16: 1). Karena ramuan untuk orang mati, bukan untuk Kristus yang tidak (belum) mati.

Bahkan ketika bertemu Maria Magdalena, Kristus enggan untuk disentuh. Ia berkata, “Jangan pegang aku, kata Yesus, karena aku belum naik kepada Bapa.” (Yohanes 20: 16-17).

Kalau benar Kristus disalib, ia akan berkata, “Aku telah bangkit dari kematian (dari antara orang-orang mati). Tapi ia malah mengatakan, “Aku belum naik kepada Bapa.” Apa artinya? Artinya ia belum mati, karena memang tidak disalib.

Maria sendiri menyatakan bahwa dia telah melihat Tuhan, bukan menyatakan bahwa Tuhan telah bangkit dari kematian (Yohanes 20: 18). Bukankah pada pertemuan kedua dengan murid-muridnya, ia memperlihatkan tangan dan lambungnya? Artinya, di tangannya tidak ada bekas paku salib.

Wajah Kristus sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa dia benar-benar Kristus, tanpa harus memperlihatkan bekas paku segala. Tapi ini benar-benar bukti bahwa ia ingin meyakinan para muridnya, bahwa ia tidak disalib, dan belum mati.

Untuk mempersingkat, ini satu dalil lagi bahwa Kristus (sebagaimana diyakini kalangan Kristen) tidak sedang disalib. “Yesus berkata kepada mereka, “Aku akan pergi, dan kalian akan mencari Aku, namun kalian tidak akan mampu datang ke tempat Aku berada. Namun kalian akan mati dalam dosa-dosa kalian (Yohanes 8: 21).

Konklusi dari ayat Injil ini adalah: pertama, orang-orang Yahudi akan berusaha untuk menangkap Yesus, namun mereka tidak mampu melakukannya. Kedua, mereka akan menanggung dosa atas usaha pembunuhannya, ketika mereka membunuh Yudas yang tersirat dalam ungkapan Yesus: “Kalian akan mati dalam dosa kalian”.

Ini adalah dalil yang menyatakan bahwa Kristus benar-benar selamat dari usah penyaliban. Maka wajar jika nama Yudas langsung menghilang dari panggung sandiwara.

Dengan demikian, Kristus benar-benar tidak disalib. Karena kalau dia disalib, berarti ayat ini harus
dicopot dari Injil, “Padahal kami berharap bahwa dialah yang akan membebaskan Israel…(Lukas 24: 21).

Argumen Bambang Noorsena, yang beliau kutip dari Tharif Khalidi, dikisahkan bahwa seorang bernama Al-Urits telah bermimpi bertemu Yesus, dan bertanya kepada Yesus: “Apakah penyaliban benar-benar terjadi?”

“Ya, Benar! Saya memang disalibkan”, jawab Yesus. Lalu si penerima mimpi melaporkan mimpinya kepada seorang ulama. “Tidak Yesus tidak disalib!”, ulama itu marah sambil mengutip Q.s. An-Nisa’ 157-158. “Yang bermimpi disalib itulah yang akan disalibkan!”, demikian kata sang ulama.

Menurut Khalidi, sosok al-Urits itu memang sosok historis yang hidup zaman Sultan Saladin. Ini adalah kisah yang tidak populer hingga hari ini dan tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Apalagi jika ia diklaim sebagai “sosok historis” yang hidup di zaman Sultan Saladin. Tentu saja kisah besar ini akan tersebar, tapi buktinya tidak []. Wallahua`lamu bi as-shawab!

*) Penulis adalah  Mahasiswa Universitas Al-Azhar-Mesir, Fakultas Uhuluddin, jurusan Tafsir. Dimuat di www.hidayatullah.com


“Allah” dalam Islam dan Kristen

April 27, 2008

Senin, 30 April 2007 var sburl4831 = window.location.href; var sbtitle4831 = document.title;var sbtitle4831=encodeURIComponent(“”Allah” dalam Islam dan Kristen”); var sburl4831=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=4635″); sburl4831=sburl4831.replace(/amp;/g, “”);sburl4831=encodeURIComponent(sburl4831);

Konsep ketuhanan yang ada dalam Yahudi dan Kristen lebih ‘membingungkan; dibanding pengertian ‘ketuhanan’ yang dimengerti dalam Islam
Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *

Bukan rahasia lagi bahwa umat Islam secara umum, dan khusus di Indonesia banyak dihadapi berbagai tantangan teologis. Dari “kristenisasi” terang-terangan hingga penggunaan istilah keagamaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dialektika Islam-Kristen di Indonesia menyisakan persoalan yang perlu diungkap dan diteliti secara serius.

Beberapa tulisan para pendeta Kristen di Indonesia banyak sekali menggunakan istilah-istilah Islam yang sudah resmi dan formal digunakan sebagai istilah “ekslusif” dalam Islam. Salah satu istilah yang sudah biasa digunakan adalah lafadz “Allah”. Lafadz ini adalah murni istilah Islam, tidak bisa sembarangan digunakan, meskipun ketiga agama Semit mengklaim masih menggunakannya.

Tulisan ini akan mengulas konsep “Allah” secara umum, yang biasa dikenal dalam agama-agama Semit (YahudiKristenIslam) yang dikenal sebagai Abrahamic religions. Dan kita akan melihat bahwa Islam benar-benar satu agama yang teguh ‘melestarikan’ konsep “Allah” ini.

Konsep “Allah” dalam Islam ini diakui dengan sangat baik oleh Dr. Jerald F. Dirk dalam bukunya “Salib di Bulan Sabit” (Serambi, 2006). Mantan diaken di ‘Gereja Metodis Bersatu’ ini mencatat bahwa “penggunaan kata Allah sering kali terdengar aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat. Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan al dan Ilah. Ia berarti Tuhan atau menyiratkan Satu Tuhan. Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa semitik, dan istilah Arab Allah atau al-Ilah terkait dengan El dalam bahasa Ibrani, yang berarti “Tuhan”.

“El-Elohim berarti Tuhannya para tuhan atau sang Tuhan. Ia adalah kata Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan Tuhan. Karena itu, menurutnya, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata Allah adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Quran dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi biblikal tertua”, kutipnya.

F. Dirk mungkin benar. Akan tetapi konsep Allah dalam Islam jauh lebih mendalam, karena bukan hanya sebagai ‘nama diri’ (proper noun). Dalam pembahasan ilmu Tauhid, konsep al-Ilah terkait erat dengan peribadatan. Oleh karenanya, dalam penjelasan “Laa ilaaha illa Allah” para ulama menjelaskan dengan “laa ma‘buda bihaqqin illa Allah”. (Tidak ada seorang tuhanpun yang berhak “diibadahi” secara benar (mutlak), kecuali hanya Allah saja).

Ini tentu berbeda dengan kata El dalam bahasa Ibrani, yang kemudian bisa menjadi El-Elohim, yang diartikan sebagai “Tuhannya para tuhan”. Berarti ada tuhan selain tuhan yang disebut El-Elohim itu. Namun dalam Islam, Allah atau Ilah hanya satu. Apalagi jika ditelusuri konsep Tuhan dalam agama Yahudi, yang banyak menyiratkan bahwa “Tuhan” Yahudi adalah ‘Tuhan nasionalistik’, atau private God bagi Yahudi. Di luar Yahudi Tuhannya berbeda.

Konsep keimanan kepada “wujud Allah” dalam Islam tidak pernah mengalami problem serius, karena konsep dasarnya sudah jelas dan fixed, tidak bisa ditawar lagi.

Imam al-Sanusi misalnya, menjelaskan bahwa tentang konsep “wujud” itu sangat jelas. Menurut mazhab Syeikh Abu al-Hasan al-Asy‘ariy, mengganggap wujud sebagai salah satu sifat merupakan satu bentuk tasamuh (toleransi). Sebab menurutnya, wujud adalah diri zat (mawjud) itu sendiri, bukan sesuatu yang lain dari zat; dan zat, jelas bukan sifat. Akan tetapi, karena dalam ucapan, wujud selalu disebut sebagai sifat zat, seperti dalam kalimat “Zat Tuhan kita Jalla wa ‘Azza adalah mawjud (ada)”, maka tidak ada salahnya kalau secara global ia dihitung sebagai salah satu sifat. Adapun menurut mazhab yang menganggap bahwa wujud itu lain dari zat, seperti imam al-Raziy, maka menghitungnya sebagai sifat adalah benar sepenuhnya, tanpa tasamuh. Ada pula yang berpendapat bahwa pada yang baharu, wujud itu lain dari zat, tetapi pada yang qadim tidak. Ini adalah mazhab para filosof. (Lihat, Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi, Syarh Umm al-Barahin (Bahasan tentang Sifat Allah yang Duapuluh), terjemah: Lahmuddin Nasution, PT. Grafindo Persada, 1999: 32). Semua pendapat ini dapat dipahami dengan jelas dan mudah.

Absurditas ‘Trinitas’

Dalam agama Kristen, konsep Allah jauh lebih problematis. Ini disebabkan adanya konsep “Trinitas” yang hingga hari ini menjadi ‘teka-teki silang’ yang tak berujung.

Seorang penulis Kristen Koptik (Qibti), Arab-Mesir, Nashrullah Zakariya menulis satu buku yang berjudul al-Tsâlûts fî al-Masîhiyyah: Tawhîd am Syirkun bi’l-Lâh? (Trinitas dalam Kristen: Monoteis atau Syirik?), menulis, jika konsep keimanan kepada Allah terjadi lewat ‘advertensi Tuhan’ (al-I‘lân al-Ilâhiy). Tanpa ini, manusia tidak bisa mengenal Allah. ‘

Menurutnya, advertensi Tuhan’ ini terjadi lewat dua cara: Pertama, ‘advertensi umum’ (al-i‘lân al-‘âm). Ini adalah advertensi yang dengannya Allah menyingkap diri-Nya lewat dua hal: (1) Alam. Tentang ini, wahyu yang kudus (al-wahyu al-muqaddas) mencatat: “Langit menyatakan, keagungan Allah dan cakrawala mewartakan karya-Nya” (Mazmur 19: 1-2); dan (2), sejarah. Maksud dari sejarah adalah: berbagai interaksi Allah dengan manusia lewat pengalaman historiknya. Kitab suci menyatakan, “Ia tidak lupa memberi bukti-bukti tentang diri-Nya…” (Kisah Rasul-Rasul 14: 17).

Kedua, ‘advertensi khusus’. Jenis ini memiliki dua sumber: (1) tajassud (bersatunya Allah dengan Yesus, inkarnasi): dimana Allah mengenalkan diri-Nya kepada kita secara jelas dan eksplisit lewat inkarnasi (tajassud) Kristus.

Di dalam Injil, Yohanes berkata: “Pada mulanya adalah ‘Firman’. Dan firman itu bersama Allah, dan firman itu adalah Allah. Firman sudah menjadi manusia, Ia tinggal di antara kita dan kita sudah melihat keagungan-Nya, seperti yang ada pada seseorang berasal dari seorang ayah, yang penuh dengan karunia dan kebenaran” (Yohanes 1: 1-15, rujuk Ibrani 1: 1-4 dan 1 Timotius 3: 3-5); (2) firman Allah yang termaktub dan pembenar atas – eksistensi – Nya yang berasal dari Kristus.

Yesus berkata: “Janganlah kalian menganggap bahwa Aku datang untuk menghapuskan hukum Musa dan ajaran nabi-nabi. Aku datang bukan untuk menghapuskannya, tetapi untuk menyempurnakannya. Ingatlah! Selama langit dan bumi masih ada, satu huruf atau titik yang terkecil pun di dalam hukum itu, tidak akan dihapuskan, kalau semuanya belum terjadi.” (Matius 5: 17-18).

Itu lah dua bentuk ‘advertensi Tuhan’ kepada manusia menurut Nashrullah Zakariya, yang terdapat di dalam Taurat (Torah) dan Injil. Menurutnya, hal itu menyatakan bahwa Allah itu “esa” (wâhid). Tetapi, Allah juga tidak hanya ‘mengumumkan’ diri-Nya sebagai Tuhan yang esa (al-Ilah al-wahid), advertensi itu terjadi berulang-ulang dari dirinya hingga menjadi “trinitas” (tsâlûtsan).

Setelah menjelaskan itu, Nashrullah bingung dan menyatakan bahwa dogma “trinitas” dalam Kristen tidak bisa dianggap sebagai hasil studi filsafat atau konsep rasionalitas an sich. Karena hal itu menurutnya tidak mudah untuk diterima oleh akal. Sumber dogma ini menurutnya berasal dari Allah itu sendiri. Allah lah yang mengumumkan dirinya sebagai Tuhan yang memiliki tiga oknum: “trinitas” (tsâluts), bukan “trinisasi” (tatslîts). Dan dalam apologi kaum Nasrani dalam membela Allah yang trinitas itu (Allah al-tsâlûts) merupakan bukti keimanan mereka kepada Allah yang esa, seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri tentang diri-Nya lewat firman-firman-Nya: kitab suci.

Padahal, jika mencukupkan diri pada ayat Torah di atas, konsep Allah jelas dapat dipahami. Tapi ketika dikaitkan dengan dogma “trinitas” yang hanya ada dalam Perjanjian Baru (Injil) konsep Allah menjadi ‘kabur’.

Penulis lain, Nasyid Hana dalam “Khamsu Haqâ’iq ‘an Allah”, (cet. II, 1999) menulis bahwa ketika Allah menciptakan para malaikat, Dia mempraktekkan sebagian sifat-sifat-Nya. Dan ketika menciptakan manusia, Dia mempraktekkan sifat-sifatnya kepada manusia.

Bagaimana mungkin Allah butuh kepada makhluk-makhluk-Nya dan mempraktekkan sifat-sifatnya kepada diri-Nya?

Lebih aneh lagi, sebagaimana ditulis Nasyid Hana, “Oknum-oknum itu bukanlah bagian-bagian dalam diri Allah. Maha suci Allah. Allah tidak terdiri dari tiga oknum. Maha suci Allah, tetapi Allah itu esa, dan setiap oknum itu adalah Allah, bukan bagian dari Allah. Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Satu esensi tetapi tiga oknum.” Inilah konsep ketuhanan yang membingungan.

Membicarakan “oknum” saja dalam agama Kristen sudah berbelit-belit, karena memang sulit dinalar oleh akal sehat. Sampai sekarang, masalah “oknum Allah” ini masih terus dibahas dan diperdebatkan hingga kini.

Akibat kebingungan ini, banyak tokoh-tokoh Kristen menyikapi dogma “trinitas” lewat ekspresi rasa ‘ketidakpuasan. St. Anselm, misalnya, harus menulis Cur Deus Homo, St. Augustine juga menulis de Trinitate dan memproklamirkan slogan: “Credo ut intellegam” (aku percaya supaya aku bisa mengerti). Senada dengan Augustine, Tertullian menyatakan: “Credo quia absurdum” (aku beriman justru karena doktrin tersebut tidak masuk akal). Ini sangat kontra dengan Islam, dimana “rasio” sangat berperan dalam mengenal dzat Allah. Apa yang bertentangan dengan akal sehat, berarti ada yang “eror” dan harus dikritisi.

Dalam Islam, Allah menciptakan makhluk-Nya agar mereka mengenal-Nya lewat nama-nama-Nya yang baik (al-asma’ al-husna), sifatnya yang transenden: yang memiliki sifat kesempurnaan dan suci dari segala kekurangan.

Ketika mereka sudah mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya, mereka melakukan ibadah kepada-Nya, yang tidak berhak diberikan kepada selain-Nya dan tidak mendekati-Nya kecuali dengan ibadah tersebut. Mereka juga memuji Allah swt. sebagaimna mestinya, sesuai dengan kemuliaan dzat-Nya dan keagungan otoritas-Nya. Ini dengan detail dijelaskan oleh Allah swt.: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS: Al-Thalaq [65]: 12).

Kata agar kamu mengetahui merupakan dalil bahwa tujuan dari penciptaan alam ini, baik alam atas maupun bawah; adalah untuk mengetahui Allah swt. Lengkap dengan nama dan sifat-sifat-Nya; yang dalam ayat tersebut disebutkan sebagiannya, yakni: kekuasaan total (al-qudrah al-syamilah) dan ilmu yang meliputi segala sesuati (al-‘ilm al-muhith). (Lihat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, Fushûl fî al-‘Ibâdah bayna al-Salaf wa al-Khalaf, dalam serial Nahwa Wahdah Fikriyyah li al-‘Āmilîna li al-Islâm (6), (Cairo: Maktabah Wahbah, 2005: 14).

Dengan demikian, terdapat perbedaan yang sangat prinsipil dalam konsep “Allah” dalam Yahudi, Kristen dan Islam. Dapat dibuktikan di dalam Al-Quran dan ulama-ulama klasik, bahwa Islam lah satu-satunya agama semit yang konsisten dalam melestarikan konsep “Allah”. Konsep Allah yang ‘nasionalistik’ adalah tidak benar dan harus ditolak. Dan konsep “Allah” yang ‘membutuhkan’ perantara (mediator) adalah mencederai kekuasaan dan keagungann-Nya. Maka, Islam menutup konsep “Allah” yang Mahasempurna dan tiada banding itu dengan firman Allah swt: “Laysa kamitslihi syai’un” (Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, ) (Qs. Al-Syura [42]: 11). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. []

*) Penulis alumnus Al-Azhar University (Cairo-Egypt) jurusan Tafsir & ‘Ulumu’l-Qur’an. Peminat Qur’anic & Hadith Studies dan Christology. Tulisan ini diambil dari Majalah Suara Hidayatullah edisi Mei 2007


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.