Belajar dari Mereka

Juli 31, 2008

Aku baru saja ‘melahap’ buku yang sangat luar biasa. 10 Kisah Hidup Penulis Dunia. Buku yang disunting oleh Anton WP dan Yuhdi Herwibowo ini sangat luar biasa. Di dalamnya menceritakan kisah para penulis besar dunia. Dimulai dari Agatha Christie dan diakhiri dengan Virginia Woold. Benar-benar menyihirku. Aku seolah tak mau berhenti dari membuka lembaran-lembarannya.

Memang tidak semua penulis besar itu aku kenal. Penyebabnya mungkin aku yang dulu hidup di kampung yang sulit untuk mendapatkan buku-buku yang berkualitas. Atau, karena aku yang masih malas membaca. Dua-duanya memang tak dapat kuhindarkan.

Dari sepuluh penulis besar yang ada di dalamnya, aku hanya mengenal dua orang saja: Charles Dickens dan Kahlil Gibran. Dari sekian banyak buku Dickens, aku baru membaca karya romannya The Great Expectations ketika aku masih belajar di Mesir (2004). Sayang, aku tidak sempat menghabiskan karyanya yang luar biasa itu.

Kahlil Gibran. Mungkin penulis asal Lebanon ini yang paling banyak aku baca karyanya. Aku masih terkesima dengan karyanya yang berjudul Sang Nabi (1923).

Karya-karya Gibran menjadi abadi. Kata sebagian orang sih karena keindahannya. Menurutku bukan sekadar keindahannya, melainkan substansi yang ditawarkannya. Itu yang lebih menjadikan karyanya benar-benar ‘membumi’. Baca saja misalnya Broken Wings (diterbitkan sebelum 1912). Karyanya ini banyak mempengaruhi wanita-wanita Arab yang selalu dinomorduakan oleh masyarakatnya. Di sini dia tampil sebagai ‘pahlawan’ yang luar biasa.

Yang sempat menarik perhatianku adalah karya Gibran yang berjudul Jesus the Son of Man (1928). Gibran benar-benar menyatakan bahwa Yesus tak lebih dari seorang anak manusia. Bukan “anak Tuhan” apalagi sebagai “Tuhan”.

Penulis-penulis lain yang ada dalam buku ini tak dapat sentuh. Aku tidak banyak tahu tentang mereka. Bagi pembaca yang lain bisa jadi mereka lebih besar dari Dickens ataupun Gibran. Aku hanya ingin menyebut nama mereka saja dalam tulisan ini: Agatha Christie, Anton Chekov, Enid Blyton, Ernest Hemingway, Karl May, Teo Tolstoy, Mark Twain, dan Virgina Woolf.

Satu yang aku inginkan setelah menghabiskan buku ini: Aku ingin belajar dari mereka.

(Ba’da Shubuh, Kamis, 31 Juli 2008 di Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS)-ISID, Gontor Ponorogo).


“Ulama Besar Indonesia”

Juli 29, 2008

Ulama Besar Indonesia

 

 

Jum’at (25/07/08) yang lalu aku sangat beruntung. Pasalanya aku menemukan buku yang sangat luar biasa, “Ulama Besar Indonesia: Biografi dan Karyanya” yang ditulis oleh Muhammad Ulul Fahmi (Patebon-Kendal: Jawa Timur, 2007). Buku yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren Al-Itqon dan diberi kata pengantar oleh KH. Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, ini amat penting untuk dibaca.

 

Di dalamnya penulis menjelaskan 23 ulama besar Indonesia: (1) Syekh Nawawi Al-Bantani (dari Banten); (2) Syekh Kholil Al-Bankalani (dari Bankalan); (3) Syekh Mahfudz At-Turmusi (dari Termas); (4) Syekh Ihsan Jampes (dari Kediri); (5) Syekh Hasyim Asy`ari (dari Jombang); (6) KH. Bisri Musthofa (dari Rembang); (7) Syekh Yasin Al-Fadani (dari Padang); (8) Syekh Ahmad Rifa`iy (dari Kendal, Jawa Tengah); (9) Syekh Muslih Mranggen (dari Demak, Jawa Tengah); (10) Ronggo Warsito (dari Tegal Sari, Ponorog-Jawa Timur); (11) Hamzah Al-Fansuri (dari Fansur, Sibolga-Sumatera Utara); (12) Syekh Ahmad Khotib Al-Minangkabaui (dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat); (13) Habib Usman ibn Yahya (dari Pekojan, Jakarta); (14 )Syamsuddin As-Sumaterani (dari Pasai, Aceh); (15) Nuruddin Ar-Raniri (dari Ranir, dekat Gujarat); (16) Abdur Ra’uf As-Sinkili (dari Fansur, sebelah Barat Laut Aceh); (17) Yusuf Al-Makassari (dari Goa, Sulawesi Selatan); (18) Syekh Abdushamad Al-Falimbani (dari Palembang); (19) Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (dari Kalimantan Selatan); (20) Husain Muhammad Nasir Al-Mas’udi Al-Banjari (dari Martapura, Banjarmasin); (21) Muhammad Nafis Al-Banjari (dari Martapura); (22) KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (dari Pati, Jawa Tengah); (23) KH. Achmad Abdul Hamid (dari Kendal, Semarang).

 

Di samping 23 ulama besar di atas, penulis juga mencantumkan beberapa ulama kreatif, yakni: (1) KH. Bisri Musthofa; (2) Mbah Soleh Darat yang hidup sezaman dengan Syekh Nawawi; (3) Kiai Abul Fadhal ibn Abdus Syukur; (4) KH. Ali Ma’sum (PP Al-Munawwir, Kerapyak-Yogyakarta); (5) KH. Muslih Abdurrahman; (6) KH. Misbah Musthofa; dan (7) KH. Sahal Aziz Masyhuri.

 

Walaupun bukunya kecil dan tipis, tapi sarat dengan informasi dan peta keilmuan para ulama kita. Tapi sangat disayangkan, sang penulis tidak mencantumkan nama Buya Hamka. Padahal, Buya Hamka adalah ulama terkenal yang sangat disegani. Berikutnya adalah M. Natsir. Aku tidak tahu jelas apa alasan penulis untuk tidak mencantumkan dua nama besar itu. Padahal, andilnya dalam keilmuan Islam sangat diakui secara internasional.

 

Ala kulli hal, buku ini penting untuk dimiliki dan ditelaah. Apalagi sebagian besar ulama kita itu banyak yang menjadi “syekh” dan mengajar di Masjidil Haram, Mekah Al-Mukarramah. Bahkan, buku ini juga menginformasikan bahwa masih ada 7.000 manuskrip karya ulama kita itu yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram. [Q]. Ba’da Shubuh (Senin, 28 Juli 2008) di CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies), Institut Studi Islam Darussalam (ISID), Gontor Ponorogo.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.