Aku baru saja ‘melahap’ buku yang sangat luar biasa. 10 Kisah Hidup Penulis Dunia. Buku yang disunting oleh Anton WP dan Yuhdi Herwibowo ini sangat luar biasa. Di dalamnya menceritakan kisah para penulis besar dunia. Dimulai dari Agatha Christie dan diakhiri dengan Virginia Woold. Benar-benar menyihirku. Aku seolah tak mau berhenti dari membuka lembaran-lembarannya.
Memang tidak semua penulis besar itu aku kenal. Penyebabnya mungkin aku yang dulu hidup di kampung yang sulit untuk mendapatkan buku-buku yang berkualitas. Atau, karena aku yang masih malas membaca. Dua-duanya memang tak dapat kuhindarkan.
Dari sepuluh penulis besar yang ada di dalamnya, aku hanya mengenal dua orang saja: Charles Dickens dan Kahlil Gibran. Dari sekian banyak buku Dickens, aku baru membaca karya romannya The Great Expectations ketika aku masih belajar di Mesir (2004). Sayang, aku tidak sempat menghabiskan karyanya yang luar biasa itu.
Kahlil Gibran. Mungkin penulis asal Lebanon ini yang paling banyak aku baca karyanya. Aku masih terkesima dengan karyanya yang berjudul Sang Nabi (1923).
Karya-karya Gibran menjadi abadi. Kata sebagian orang sih karena keindahannya. Menurutku bukan sekadar keindahannya, melainkan substansi yang ditawarkannya. Itu yang lebih menjadikan karyanya benar-benar ‘membumi’. Baca saja misalnya Broken Wings (diterbitkan sebelum 1912). Karyanya ini banyak mempengaruhi wanita-wanita Arab yang selalu dinomorduakan oleh masyarakatnya. Di sini dia tampil sebagai ‘pahlawan’ yang luar biasa.
Yang sempat menarik perhatianku adalah karya Gibran yang berjudul Jesus the Son of Man (1928). Gibran benar-benar menyatakan bahwa Yesus tak lebih dari seorang anak manusia. Bukan “anak Tuhan” apalagi sebagai “Tuhan”.
Penulis-penulis lain yang ada dalam buku ini tak dapat sentuh. Aku tidak banyak tahu tentang mereka. Bagi pembaca yang lain bisa jadi mereka lebih besar dari Dickens ataupun Gibran. Aku hanya ingin menyebut nama mereka saja dalam tulisan ini: Agatha Christie, Anton Chekov, Enid Blyton, Ernest Hemingway, Karl May, Teo Tolstoy, Mark Twain, dan Virgina Woolf.
Satu yang aku inginkan setelah menghabiskan buku ini: Aku ingin belajar dari mereka.
(Ba’da Shubuh, Kamis, 31 Juli 2008 di Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS)-ISID, Gontor Ponorogo).
Ditulis oleh hujjahbalighah