“Sujudlah Kepada Tuhanmu”

Sujud itu umum dilakukan. Ia tidak “khusus” ada dalam shalat. Makanya, dalam Islam sujud itu dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Maka muncullah istilah sujud tilawah, yang dilakukan ketika seorang Mukmin mendengar ayat-ayat sajadah. Dalam shalat tentu wajib dilakukan, karena ia menjadi rukun shalat. Ia –dalam shalat—tidak boleh ditinggalkan, karena shalat akan menjadi tidak sah.

Sujud adalah lambang “kerendahan qalbu”. Sujud adalah indikasi “tawadhu’”. Tawadhu’ ini lah yang sangat disukai oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karenanya, Allah sangat murka kepada Iblis la’natullah ‘alaihi ketika menolak untuk “sujud” kepada nabi Adam a.s. Padahal seluruh malaikat sujud kepadanya (Qs. Al-Hijr [15]: 30; Shad [38]: 73; al-Baqarah [2]: 34; dan al-A’raf [7]: 11). Ketika ditanya kenapa dia menolak untuk sujud kepada Adam, Iblis mengklaim bahwa dia lebih baik dari Adam. Karena menurutnya, “api” lebih mulia daripada “tanah” (Qs. Al-Isra’ [17]: 61; al-Hijr [15]: 33; al-A’raf [7]: 12; Shad [37]: 75). Iblis benar-benar sombong, tidak tawadhu’. Dikiranya api lebih baik dan lebih mulia dari tanah.

Dalam kehidupan nyata, kita terkadang menganggap lebih mulia dari orang lain. Anggota badan kita yang paling kita muliakan adalah kepala. Adakalanya kita “marah” ketika kawan kita memegang atau menyentuh kepala kita. Kenapa? Karena kita anggap kepala sebagai organ tubuh paling mulia, paling fitrah, paling suci. Tapi sadarkah kita ketika shalat posisi kepala kita ada di mana? Sama-sama di atas bumi Allah, bahkan satu derajat dengan kedua-telapak kaki kita yang biasa memijak kotoran manusia, hewan, dll. Mau kita sombongkan kepala kita? Na’udzu billah min dzalik!

Di zaman nabi Yusuf a.s. penghormatan kepada orang terhormat (mulia) dilakukan lewat “sujud”. Oleh karena itu, kedua orangtua nabi Yusuf dan kesebelas saudaranya sujud, hormat kepadanya ketika menjadi ‘Mentri Keuangan’ di Mesir, pada masa kekuasaan Qifthirul ‘Aziz. (Qs. Yusuf [12]: 100). Sujud adalah lambang ke-tawadhu’an.

Seluruh makhluk Allah –baik hidup maupun mati—di langit dan di bumi pun sujud kepada-Nya, baik dengan penuh ketaatan maupun terpaksa (thaw’an wa karhan) (Qs. Al-Ra’du [13]: 15, al-Nahl [16]: 49; al-Hajj [22]: 18). Bahkan secara detail Allah menjelaskan bahwa “bintang dan pohon” –keduanya—sujud kepada-Nya (Qs. Al-Rahman [55]: 6). Segolongan Ahli Kitab yang tawadhu’ qalbunya ketika membaca ayat-ayat Allah pun sujud (Qs. Ali ‘Imran [3]: 113). Malaikat pun sujud pada-Nya (Qs. Al-A’raf [7]: 206).

Jangan Sujud Pada Makhluk!

Ini lah bentuk sujud yang dilarang oleh Allah s.w.t. Tidak ada sujud kepada manusia. Tidak ada sujud kepada matahari (seperti orang Jepang) dan bintang. Sujud hanya milik Allah (Qs. Fushshilat [41]: 37). Bagaimana mungkin seorang Mukmin sujud kepada matahari dan bulan, padahal keduanya makhluk Allah.

Orang yang takut kepada pemimpin yang zalim dan lalim, adalah orang yang sujud kepada makhluk. Orang-orang yang biasa memberikan sesajen –katanya untuk arwah makhluk halus dan nenek moyang—adalah sujud kepada makhluk. Kepercayaan syirik, seperti dinamisme, animisme, dlsb adalah bentuk sujud kepada makhluk. Para hedonis dan materialis, sejatinya telah sujud kepada makhluk.

Sujud itu bukti ibadah yang ikhlas untuk Allah. Karena jiwa dan raganya tunduk dan patuh hanya untuk-Nya. Itulah yang diinginkan oleh Allah dari orang-orang beriman (Qs. Al-Hajj [22]: 77). Bahkan secara khusus, Allah menyuruh Maryam al-Batul untuk sujud pada-Nya (Qs. Ali ‘Imran [3]: 43).

Sujud itu memuji dan mengagungkan Allah. Dengan sangat ‘mesra’ Allah meminta hal itu dari kekasihnya, habibullah Muhammad s.a.w. “Pujilah Tuhanmu dan masuklah ke dalam golongan orang-orang yang sujud” (Qs. Al-Hijr [15]: 98). Sujud itu bukan untuk Allah, karena Dia tidak butuh kepada sujud kita. Sujud adalah untuk kita: kebaikan dan kemaslahatan kita. Karena kesempurnaan seorang hamba terletak pada sujudnya. Kenikmatan itu sudah dirasakan oleh Kanjeng Nabi s.a.w. Makanya beliau meminta kepada kita, “Hendaklah engkau memperbanyak sujud. Karena tidaklah engkau sujud satu kali untuk Allah, melainkan diangkat derajatmu satu tingkat, dan dihapuskan satu kesalahanmu.” (HR. Muslim).

Nah lho, sungguh beruntung orang-orang yang banyak sujudnya kepada Allah. Derajatnya akan diangkat. Tentu saja bukan hanya di akhirat, melainkan sejak di dunia ini. Contohnya terlalu banyak untuk disebutkan. Misal saja, seperti para nabiyullah; para sahabat; para tabi’in; para awliya’; para ulama; Wali Songo (khusus di Indonesia) dan para salihin. Sampai sekarang, kemuliaan mereka tetap disebut-sebut oleh generasi umat ini. Kenapa? Derajat mereka diangkat oleh Allah, sehingga mereka menjadi mulia. Dan itu bukan harga gratis. Semuanya diraih lewat ketundukan jiwa, ketawadhu’an qalbu, yakni “sujud”. [Q]

(Medan, 5 Juli 2008).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: